Selasa, 15 Februari 2022

Membran Sel

 

MEMBRAN SEL

(MEMBRAN PLASMA/PLASMALEMA/EKSOMEMBRAN)


Materi membran sel/ membran plasma bisa didownload di link membran sel

Pengendalian Hayati Hama Insekta

 

PENGENDALIAN HAYATI HAMA INSEKTA

 

A.    PENGERTIAN PENGENDALIAN HAYATI

Smith (1919) adalah orang pertama yang menggunakan terminologi pengendalian hayati pada usaha menggunakan musuh alami untuk mengendalikan hama. De Bach (1964) mendefinisikan pengendalian hayati sebagai aksi dari parasit, predator atau patogen di dalam usaha untuk memelihara kepadatan populasi organisme lain pada tingkat terendah bila dibandingkan mereka tidak ada. Eilenberg dkk (2001) mengemukakan terminologi dari pengendalian hayati dalam artikelnya di jurnal Biocontrol. Mereka mendefinisikan pengendalian hayati sebagai penggunaan organisme hidup untuk menekan kepadatan populasi atau memberi pengaruh terhadap hama spesifik, yaitu membuat kepadatan populasi dan kerusakan yang ditimbulkan menurun dibandingkan dengan absennya musuh alami.

Dari beberapa pengertian pengendalian hayati di  atas dapat disimpulkan bahwa pengendalian hayati merupakan pengendalian hama atau penyakit tanaman dengan menggunakan musuh alami yang merupakan predator, parasit atau patogen dari hama atau penyakit tanaman tersebut.

B.     ASPEK KERJA AGEN PENGENDALIAN HAYATI

Hama yang merupakan pengganggu tanaman adalah sebagai sasaran agen pengendalian hayati. Adapun kategori hama sasaran agen pengendalian hayati ada tiga, yaitu :

-  Hama arthropoda ( insekta dan arachnida)

-  Gulma (tanaman pengganggu)

- Penyakit (bakteri, virus dan cendawan) dan nematoda parasit tanaman.

Adapun hama yang dibahas pada makalah ini adalah hama insekta yang merupakan salah satu kelas dari filum arthropoda.

Dari definisi pengendalian hayati di atas dapat dijelaskan mengenai agen pengendalian hayati yaitu bahwa agen pengendalian hayati hama tanaman memiliki tiga aspek kerja, yaitu sebagai predator, parasit dan patogen.

1.      Predator

Predator merupakan pemangsa atau perusak langsung. Biasanya predator memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan mangsanya, yaitu hama serangga, dan sifat predator secara aktif mencari mangsanya, kemudian memakan atau menghisap cairan tubuh mangsa sampai mati, hal ini dikarenakan predator bersifat spesifik terhadap hama.

Misalnya : - kumbang coccinella : predator aphis (kutu daun)

-    chilocorus : predator kutu perisai (Aspidiotus destructor) pada kelapa

-    burung mynah (Indian mynah bird) : predator belalang merah (Nomadacris septem fasciata)

-    kumbang coccinella Rodolia cardinalis : pradator kutu putih Icerya purchasi pada tanaman jeruk.

2.      Parasit

Parasit merupakan pengendali yang berkembang pada jasad hama selama hidupnya, di mana selama atau sebagian waktu dari siklus hidupnya berada di dalam atau menempel pada inang dan umumnya merusak inang selama perkembangannya. Parasit selalu berukuran lebih kecil dari pada inangnya.

Misalnya : - tabuhan chalcid : parasit aphis di australia

- tabuhan aphytes : parasit kutu pada tanaman jeruk.

3.      Patogen

Patogen yaitu pengendali yang menimbulkan penyakit pada jasad hama serangga pada kondisi lingkungan yang cocok beberapa jenis penyakit akan menjadi wabah epidemik. Penyakit tersebut secara drastis mampu menekan populasi hama hanya dalam beberapa hari.

Misalnya : - Bacillus thuringiensis (Bt) : patogen ulat serangga

-    Cendawan Entomorpha : patogen aphis alfafa

-    Cendawan Metarhizium : patogen larva Orycetes rhinocerus

-    Cendawan Beauveria : patogen ulat serangga

-    Baculovirus : patogen Orycetes rhinoceros

-    NPV : patogen Heliothis zeae pada pucuk jagung

Pembahasan mengenai agen yang bersifat patogen terhadap hama insekta akan dibahas lebih mendalam di depan.

C.    METODE PENGELOLAAN AGEN PENGENDALIAN HAYATI

Terdapat tiga metode pengelolaan agen pengendalian hayati hama insekta, yaitu metode introduksi, konservasi dan augumentasi.

1.      Introduksi

Metode introduksi dilakukan jika tidak ada musuh alami lokal yang efektif membasmi hama, maka dilakukan introduksi atau importasi musuh alami dari daerah lain.

Sebelum pengintroduksian musuh alami dari daerah lain perlu dilakukan analisis bahwa musuh alami yang akan diintroduksi merupakan musuh alami dari hama di daerah importan yang mirip dengan hama yang akan dilakukan introduksi.

2.      Konservasi

Konservasi  merupakan upaya pelestarian keberadaan musuh alami di suatu wilayah dengan antara lain melalui pengelolaan habitat yang bisa dilakukan dengan cara meminimalisasi dampak negatif penggunaan pestisida yang dapat membasi musuh alami itu sendiri, atau juga merupakan upaya peningkatan populasi musuh alami yang telah ada pada arel pertanaman.

3.      Augumentasi

Jika musuh alami yang ada pada areal pertanaman tidak mampu mengendalikan hama, meskipun konservasi telah dilakukan, maka metode kedua yang digunakan adalah melakukan pembiakan massal musuh alami di laboratorium, kemudian melepaskannya kembali ke areal pertanaman tersebut.

Augumentasi dapat dibedakan menjadi dua metode, yaitu metode inokulasi dan metode inundasi.

a.      Inokulasi, inokulasi dilakukan jika musuh alami di areal pertanaman tidak bertahan lama dari satu masa tanam ke masa tanam lain. Penginokulasian biasanya dilakukan pada awal musim tanam, sehingga populasinya akan mapan dan berkambang.

b.      Inundasi, inundasi dilakukan ketika populasi hama membutuhkan penanganan yang cepat sehingga pembanjiran musuh alami dalam jumlah besar di areal pertanaman sangat diperlukan.

 

D.    ENTOMOPATOGEN

Pembahasan makalah ini dispesifikkan membahas bioteknologi pengendalian hayati hama serangga, yaitu membahas agen pengendalian hayati yang bersifat patogen pada serangga. Adapun agen pengendalian hayati yang bersifat patigen adalah bakteri, cendawan, virus, protozoa dan nematoda.

1.      Patogenesis Entomopatogen

Untuk menyelesaikan secara lengkap siklus hidupnya, maka pada umumnya patogen harus kontak dengan inangnya, masuk ke tubuh inang, reproduksi di dalam satu atau lebih jaringan inang dan mempunyai propagul untuk kontak dan menginfeksi inang baru. Terdapat serial proses di dalam biologi patogen yang meliputi kontak  dengan inang, penetrasi inang, reproduksi, keluarnya propadul patogen dari  inang, dan penyebaran dan persistensi propagul patogen di lingkungan.

a.      Kontak  inang

Terdapat dua cara patogen serangga memasuki tubuh serangga yaitu :

-          Ketika inang menelan individual patogen selama proses makan.

-          Ketika patogen masuk melalui bukaan-bukaan alami atau penetrasi langsung ke kutikula serangga.

b.      Penetrasi inang

Ketika propagul telah kontak dengan inang, tubuh inang harus dipenetrasi untuk mencapai jaringan yang peka. Patogen mempenetrasi masuk ke saluran pencernaan setelah tertelan atau juga masuk secara langsung melalui luka atau juga secara mekanik mempenetrasi langsung kutikula.

c.       Reproduksi dalam jaringan inang

Setelah patogen melakukan penetrasi terhadap inang, proses selanjutnya adalah reproduksi pada salah satu atau beberapa jaringan, seperti pada jaringan epitel saluran pencernaan.

d.      Keluarnya propagul patogen dari inang atau cadaver

Proses setelah reproduksi adalah progeni. Pada kebanyakan patogen propagul dilepas secara bebas kembali ke lingkungan dan kemudian akan kontak dengan inang baru. Pengeluaran propugul bisa dengan bantuan air hujan yang mengakibatkan tubuh inang rusak, angin, fases, dan lain-lain.

e.       Penyebaran dan persistensi propagul patogen di lingkungan

Setelah keluarnya propagul dari tubuh inang, proses selanjutnya adalah penyebaran dan persistensi di lingkungan.

Penyebaran propagul dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara :

 1. Horizontal transmission, yaitu Perpindahan penyakit dari serangga yang sakit ke serangga yang sehat.

2. Vertical transmission, yaitu Perpindahan penyakit terjadi dari serangga ke progeninya atau offspringnnya.

Persistensi propagul pada patogen cendawan, bakteri dan protozoa di lingkungan dilakukan dengan cara dormanisasi jika lingkungan tidak mendukung, tetapi ada mikroorganisme patogen tertentu yang sangat rentan terhadap  faktor lingkungan, seperti sinar matahari langsung dan UV, dan beberapa juga sangat rentan terhadap kondisi kering atau desikasi, temperatur tinggi, freezing dan beberapa kemikal lainnya, sehingga menyebabkan kematian.

2.      Agen Entomopatogen

a.      Bakteri

-          Spore-forming bacteria

Spore-forming bacteria merupakan bakteri yang membentuk spora yang resisten terhadap lingkungan ekstrim. Spore-forming bacteria  terdiri dari tiga genus, yaitu Bacillus, Paenibacillus aerobik dan Clostridium anaerobik.

Bacillus thuringiensis (Bt) efektif membasmi larva serangga, seperti Bt Varkurstaki yang aktif membunuh larva Lepidoptera, Bt Israelensis (Bti) aktif terhadap Diptera, Bt tenebrio (Btt) yang aktif terhadap larva Coleoptera yang kemudian Btt diubah menjadi Bt morrisoni (Btm) yang juga aktif terhadap hama kumbang.

Larva yang  terinfeksi oleh Bt akan menunjukkan perubahan perilaku dan morfologi. Setelah beberapa jam menelan larva akan berhenti makan, berhenti bergerak, kemudian ditujukan dengan gejala perubahan diare, berubah warna menjadi gelap dan akhirnya mati. Kesemua akibat tersebut disebabkan pengeluaran toksin oleh patogen yang membentuk lubang pada saluran pencernaan larva serangga, sehingga keseimbangan osmotik terganggu dan terjadilah pembengkakan sel, sehingga terjadi peletu dan sel, kemudian penyebaran  patogen ke organ lainnya.

Paenibacillus popilliae adalah bakteri yang menginfeksi uret Coleoptera. Uret ini hidup di dalam tanah yang memakan akar-akar tanaman. Jika bakteri ini ikut termakan, maka bisa menyebabkan infeksi.

-          Non-spore-forming bacteria

Bakteri jenis ini terdiri dari golongan Enterobacteriaceae dan Pseudomonidiaceae. Serratia marcencens adalah spesies bakteri ini yang masuk ke tubuh uret di New Zealand dengan cara tertelan. Melissococcus pluton adalah bakteri penyebab penyakit pada larva lebah madu pada comb.

b.      Cendawan

Cendawan entemopatogen mengkontak inangnya dan melalui kulit yang kemudian mempenetrasi kutikula, kemudian masuk ke organ  yang lebih dalam dan selanjutnya adalah bereproduksi, setelah serangga terpenuhi oleh hifa, serangga akan mati dan cendawan akan terus melangsungkan siklus hidup dalam fase saprofitik.

Contohnya adalah ordo Entomophthoralean dari Zygomycota, seperti :

-                                                          Entomophaga grili yang menginfeksi belalang

-                                                          Entomophthorales muscae  yang menginfeksi lalat

-                                                          Zoophthora radicans yang menginfeksi wereng daun kentang

Dan kelas Ascomycota seperti : Paecilomycetes Beauveria, Metarhizium, Nomurea, dan Verticillium.

c.       Virus

Di antara virus yang menyerang serangga terdapat 3 famili yang berstruktur spesial untuk beradaptasi dan survival di lingkungan, yaitu Baculoviridae, Poxviridae dan Reoviridae, yang memproduksi tubuh oklusi  yang terbentuk dari matrik protein (struktur yang melindungi partikel virus), di mana tubuh oklusi ini resisten terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan.

Famili Baculoviridae terdiri atas nuclear polyhedrosisvirus (NPV), yang menginfeksi Lepidoptera dan granulosis virus (GV), yang menginfeksi cabbage looper Trichoplusia, Cydia pomonella, grape leaf skeletonizer dan  Harissina brillian.

d.      Protozoa

Nosema locustae adalah salah satu spesies protozoa yang dangat ampuh membasmi grasshoppers, crickets, locuts.

e.       Nematoda

Nematoda Entomopatogenik adalah agen pengendali hayati yang melakukan simbiosis mutualisme dengan bakteri dalam melakukan penginfeksian. Nematoda famili Steinernematidae berasosiasi dengan Xenarhabdus dan nematoda Heterorhabditidae berasosiasi dengan bakteri Photorhabdus. Bakteri inilah yang bertanggung jawab membunuh serangga inang dengan cepat, yaitu dengan cara pengeluaran toksin. Setelah nutrien yang terkandung dalam inang habis, juvenil nematoda akan diam di tanah sambil mencari inang baru.

Serangga yang sering terinfeksi nematoda adalah Lepidoptera, coleoptera, Diptera, Orthoptera dan Siphonaptera.


DAFTAR PUSTAKA

 

Djafaruddin. 1996. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Jakarta : Bumi Aksara

http://www.google.com/

Kartasapoetro, AG. 1993. Hama Tanaman Pangan dan Perkebunan. Jakarta : Bumi Aksara

Martoredjo, Toekidjo. 1992. Pengendalian Penyakit Tanaman. Yogyakarta : Andi Offset

Sinaga, Meity Suradji. 2003. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit tumbuhan. Jakarta : Penebar Swadaya

Tjahjadi, Nur. 1989. Hama dan Penyakit Tanaman. Yogyakarta : Kanisius


Mekanisme Sistem Pertahanan Tubuh

 

MEKANISME SISTEM PERTAHANAN TUBUH 


A.    LATAR BELAKANG

Manusia sebagai makhluk hidup  berada di  lingkungan yang kompleks. Di sekitar manusia banyak sekali bahan organik maupun anorganik, baik yang hidup maupun yang mati. Keberadaan mereka bisa menjadi keuntungan bagi manusia, tetapi tidak hanya keuntungan yang didapat, kerugian pun dapat diterima manusia.

Bahan-bahan yang merugikan, seperti yang berasal dari hewan, tumbuhan, jamur, bakteri, virus, parasit, debu, uap, asap, dan sebagainya, jikamasuk ke dalam tubuh manusia dapat menimbulkan penyakit.

Mengingat manusia tidak dapat hidup dalam dunia yang  steril, yang terhindar dari berbagai macam penyakit, maka manusia harus memilki sistem pertahanan tubuh yang kuat. Sistem pertahanan tubuh merupakan suatu sistem yang  terus menerus melakukan kegiatan dan tidak pernah melalaikan tugasnya, di mana sistem pertahanan tubuh ini melindungi tubuh siang dan malam dari semua jenis penyerang atau bahan yang bersifat patogen bagi  tubuh manusia. sistem pertahanan tubuh bekerja dengan penuh keekunan, layaknya pasukan tempur yang siap mebombardir musuh, dalam hal ini konfigurasi atau benda asing, yang datang atau masuk ke dalam tubuh.

Oleh karena keberadaan sistem pertahan tubuh di dalam tubuh manusia sangat harus mendapatkan perhatian penuh agar sistem tersebut dapat bekerja dengan optimal, sehingga kita sebagai manusia dapat terhindar dari penyakit yang dapat merugikan kita.

Agar sistem pertahanan tubuh dapat bekerja dengan optimal, maka kita sebagai manusia harus memahami bagaimana mekanisme sistem pertahanan tubuh  mempertahankan tubuhnya dari serangan-serangan konfigurasi asing yang masuk.

Sistem pertahanan tubuh dalam melaksanakan pekerjaannya tidak mulus berhasil, tapi banyak rintangan yang menghadang, bahkan kekalahan sistem pertahanan tubuh sering terjadi.

Untuk mengetahui permasalahan mekanisme saat antigen  masuk ke dalam tubuh dan pemecahan masalah mekanisme pertahanan melawan antigen akan dipapar pada pembahasan berikutnya.

B.     MEKANISME SAAT ANTIGEN MASUK DALAM TUBUH

Benda atau konfigurasi asing yang masuk ke dalam tubuh disebut dengan Antigen. Secara fungsional antigen dapat dibagi menjadi dua, yaitu imunogen dan hapten.

1.      Imunogen

Imunogen merupakan bahan yang dapat menimbulkan respon imun atau dapat disebut pula sebagai antigen yang dapat merangsang kekebalan tubuh dengan sangat kuat terutama dalam konteks imunitasproreaktif terhadap organisme patogen yang masuk ke dalam tubuh.

Determinan antigen yang disebut juga sebagai epitop merupakan bagian yang menginduksi pembentukan antibodi yang dapat diikat dengan spesifik oleh bagian dari antibodi atau reseptor pada limfosit. Bagian antibodi yang mengikat epitop tersebut disebut dengan paratop.

2.      Hapten

Hapten adalam molekul yang dapat bereaksi dengan antibodi yang sudah ada, tetapi tidak dapat merangsang pembentukan antibodi secara langsung.

Hapten merupakan determinan antigen engan berat molekul yang kecil. Oleh karenanya akan berubah menjadi imunogen jika sudah berkonjugasi dengan protein pembawa yang besar yang juga merupakan benda asing.

Biasanya haptean dikenal oleh sel B, sedangkan protein pembawanya dikenal oleh sel T. Hapten ini membentuk epitop pada molekul pembawa yang dikenal sistem imun dan merangsang pembentukan antibodi tubuh.

Berdasarkan epitop atau determinan antigen terbagi ke dalam empat macam, yaitu:

1.       Unideterminan, univalen. Molekul antigen hanya memiliki datu jenis determinan atau epitop.

2.      Unideterminan, multivalen. Molekul antigen hanya memiliki satu jenis determinan dengan dua atau lebih determinan tersebut .

3.      Multideterminan, univalen. Molekul antigen memiliki banyak jenis determinan, tetapi hanya terdapa satu determinan pada tiap jenisnya.

4.      Multideterminan, multivalen. Molekul antigen memiliki banyak determinan dan juga memiliki banyak determinan pada tiap jenisnya.

Berdasarkan ketergantungan terhadap sel T, antigen dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu :

1.      T.independen, yang dapat merangang sel B tanpa bantuan sel T. untuk membentuk antibodi.

2.      T. dependen, yang memerlukan pengenalan (sensitasi) oleh sel T dan sel B terlebih dahulu untuk mendapatkan respon dari antibodi.

 

Berdasarkan sifat kimianya antigen dapat dibagi kedalam 4 macam, yaitu :

1.      Hidrat arang, yang biasanya imunogenik.

2.      Lipid, bukan imunogenik dan akan menjadi imunogenik jika dibawaprotein pembawa.

3.      Asam nukleat, bukan imunogenik, tapi akan menjadi imunogenik jika terbawa protein pembawa.

4.      Protein, bersifat imunogenik.

 

Antigen masuk ke dalam bisa melalui pernapasan, pencernaan (bersama-sama dengan makanan), kulit sebagai pelindung tubuh terluar, dan bisa juga dari saluran anus, uretra, dan reproduksi (vagina).

Pada dasarnya konfigurasi asing yang masuk ke dalam tubuh akan merangsang pembentukan antibodi, tetapi terdapat beberapa masalah yang mungkin terjadi. Masalah-masalah tersebut dapat muncul berupa pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

1.      Mengapa respon terhadap suatu antigen tidak berjalan terus menerus dapat menjadi lebih berat ? bahkan sistem pertahanan tubuh tidak dapat mengendalikannya ?

2.      Mengapa fetus yang merupakan suatu alo-transplan tidak ditolakoleh respon imun ibu terhadap antigen asal ayah atau mengapa ada antigen yang masuk tidak merangsang pembentukan antibodi ?

3.      Mengapa respon imun terhadap antigen-antigen tubuh sendiri hanya merupakan hal-hal yang luar biasa dan bukan merupakan halyang biasa-biasa saja ?

Jawaban dari  pertanyaan-pertanyaan di atas akan dikelaskan pada pembahasan berikut.

1.      Toleransi

Toleransi adalah tidak terdapatnya respon imun pada seseorang yang spesifik atau imnokompeten, yaitu kurang mengekspresikan imunitas humoral atau selular terhadap satu atau lebih antigen pesifik. Hal ini disebabkan karena hilangnya fungsi sel B dan sel Tuhan yang reaktif terhadap antigenyang datang.

2.      Regulasi Oleh Antigen

Antigen yang dimasukkan ke dalam tubuh tidak langsung menimbulkan respon imun, tetapi butuh dosis, waktu pemberian, sifat, komposisi antigen (protein  dan hidrat  arang) yang tepat agar respon imun terbentuk. Dan juga ada antigen yang  tidak menimbulkan respon imun jika tidak mencapai suatu daerah tertentu dari tubuh, seperti antigen imunogenik dengan tempat di jaringan limfoid.

Jadi, jika kurang tepatnya keadaan faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan respon imun tidak terdapati.

3.      Hipersensitifitas

Jika toleransi dan regulasi antigen menyatakan tidak terbentuknya antibodi ketika antigen masuk, jutruhipersensitiitas menyatakan respon imun yang berlebihan dalam melawan antigen yang masuk.

Pada hakikatnya antibodi yang terbentuk merupakan suau usaha untuk melawan antigen yang masuk agar kita terhindar dari penyakit ataubahaya yang ditimbulkan oleh antigen tersebut, tapi ada kalanya respon yang berlebihan dari sistem imun tubuh dapat membahayakan bagi tubuh itu sendiri atau dapat merusak tubuh itu sendiri. Reaksi imun patologik yang terjadi akibat dari respon imun yang berlebihan, sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh ini disebut dengan hipersensitifitas.

  

C.    MEKANISME PERTAHANAN MELAWAN ANTIGEN

Walaupun kita hidup di lingkungan yang kompleks, yang banyak sekali antigen di sekitar kita, tetapi kita mempunyai sistem kekebalan tubuh yang dapat melawan dan menghambat laju dari antigen dalam mencegah mencegah perkembangbiakan antigen di dalam tubuh.

Setelah antigen masuk ke dalam tubuh, tidak serta mertaantigen dapat menginduksi dan berkembang di dalam tubuh, tetapi antigen akan melalui serangkaian rintangan yang diciptakan oleh tubuh.

Adapun rintangan yang dihadapai olehantigen adalah sebagai berikut :

1.      Sistem imun nonspesifik

Rintangan yang pertama dihadapi oleh antigen adalah sistem imun nonpesifik. Respon imun nonspesifik merupakan respon tubuh langsung ketika antigen masuk, yaitu berupa komponen tubuh normal  yang selalu ditemukan pada individu sehat yang sifatnya tidak ditujukan pada antigen tertentu, artinya sistem imun nonspesifik akan melawan antigen apapun yang masuk ke dalam tubuh. Jadi, sistem imun nonspesifik merupakan pertahanan awal dari serangkaian mekanisme perlawanan yang akan dihadapi oleh antigen. Respon imun nonpesifik meliputi beberapa proses yaitu :

a.      Pertahanan fisik/mekanik

Pertahanan fisik/mekanik adalah pertahanan sistem imun nonspesifik pertama yang siap melawan antigen yangmasuk. Pertahanan fisik/mekanik ini adalah pertahanan dengan menggunakan sekret yang dihasilkan tubuh.

Kita tahu bahwa antigen di udara begitu banyak, sehingga kita sangat berpotensi menghirup antigen tersebut. Tetapi kita juga memiiliki sistem pertahanan yang selalu siap bekerja. Hidung kita mensekret lendir, sehingga 80-90% antigen yang masuk ke dalam hidung tertahan atau tersapu. Selanjutnya jika antigen tersebut berhasil melewati rintangan yang pertama datang rintangan selanjutnya, yaitu berupa penghalangan oleh bulu-bulu halus atau silia di permukaan sel-sel saluran pernapasan. Pertahanan juga dilakukan oleh sistem pernapasan dengan cara bersin dan batuk agar antigen yang masuk terdorong keluar.

 

Antigen yang masuk ke dalam tubuh juga harus melewati kulit, sebagai bagian terluar dari tubuh yang melindungi bagian dalam tubuh dari segala hal yang mengancam. Walapun kulit dapat dilalui oleh keringat yang keluar dari tubuh, tetapi karena elestisitasnya kulit, lubang tempat jalan keluarnya keringat dapat tertutup ketika keringan tidak keluar.

b.      Pertahanan biokimia

Apabila antigen berhasil melewati serangkaian perlawanan dari sistem pertahanan fisik, antigen pun akan menghadapi pertahanan biokimia. Pertahanan biokimia adalah pertahanan sengan menggunakan sekret tubuh sebagai alat penahan dari serangan antigen.

Antigen yang melakukan penetrasi ke kulit tidak langsung dapat masuk ke dalam jaringan kulit, tetapi akan ditahan oleh pH asam disekret kelenjar keringat dan asam lemak kulit, yang pada sebagian patogen hal tersebut merupakan hal yang beracun.

Bersama dengan makanan yang dikonsumsi tubuh antigen masuk, tetapi untuk dapat menginduksi antigen harus asamnya enzim amilase yangdisekret oleh kelenjar ludah, dan setelah itu antigen akan menghadapi asamnya lambung, dan jika masih berhasil mengalahkan asamnya lambung, antigen akan dihadapkan pada enzim pencernaan yang dihasilkan oleh usus halus, contohnya adalah sekret peptida antibakterial.

Selain dari hidup dalam proses pernapasan, dari kulit sebagai lapisan terluar dari tubuh dan dari mulut sebagai organ masuk makanan, antigen juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem  ekskresi atau organ yang mengeluarkan urin. Melalui alat alat keluarnya urin inipun antigen tidak luput dari perlawanan sistem kekebalan tubuh. Di dalam kandung kemih antigen akan dihadapkan dengan asamnya suasana.

Mata merupakan organ tubuh yang tidak tertutupi oleh kulit. Dan untuk menjga mata agar tidak terinduksi oleh antigen air mata siap mempertahankan wilayahnya dari serangan antigen.

c.       Pertahanan humoral

Pertahanan humoral terdiri dari tiga pertahanan, yaitu pertaanan antibodi dan komplemen, pertahanan interferon dan perthanan C Reaktif Protein (CRP).

1)      Antibodi dan komplemen

Serum normal darah merupakan pertahanan kerja sama antara antibodi dengan komplemen. Antibodi dan komplemen ini dapat menghancurkan dindingsel bakteri antigen proteksi terhadap infeksi.

Komplemen itu sendiri merupkan sejumlah besar protein yang bila diaktifkan akan memberikan proteksi terhadap infeksi dan berperan dalam proses inflamasi. Adapun fungsi dari komplemen itu sendiri adalah sebagai penghancur sel membran bakteri (lisis), pelepas bahan kemotaktik yang mengerahkan makrofag ke tempat bakteri, dan sebagai pengendap pada permukaan bakteri (opsosinasi), sehingga makrofag mudah mengenali atau opsonisasi lalu mamakannya. Asal komplemen berasal dari hepatosit dan monosit yang berada diseluruh tubuh.

2)      Interferon (IFN)

Infeksi virus akan mengalami perlawanan dari interferon yang merupakan produk dariinti sel. Interferon ini merupakan sitokin berupa glikoprotein. Interferon juga merupakan pengaktif sel NK, sehingga sel NK dapat menghancurkan infeksi virus stadium lanjut.

3)      C - Reaktif Protein (CRP)

Ketika infeksi bakterimengganas atau bersifat akut CRP yang merupakan senyawa protein akan meningkat drastis, yng bersama ion kalsium CRP mengikat moleku pada permukaan bakteri atau jamur, sehingga komplemen teraktivasi. CRP juga berupa opsonin yang dapat merangsang proses fagositosis antigen.

d.      Pertahanan seluler

Pertahanan seluler adalah pertahanan tubuh dari serangan  antigen oleh sekelompok sel. Terdapat empat jenis sel yang bertugas pada pos perthanan ini.

1)      Fagosit

Banyak sel yang berperan dalam proses fagositosis antigen, tetapi sel utama yang bertanggung jawab dalam proses ini adalah sel monosit dan granulosit.

Proses  fagositosis ini terjadi melalui serangkaian proses, yaitu penarikan bakteri karena terjadi kemotaksis antara sel bakteri dengan sel fagosit, setelah itu dilakukan pengenalan yang artinya bahwa benda yang sedang dikenali ini apakah self atau nonself, lalu terjadi pengikatan atau penangkapan yang dibantu dengan komplemen dan antibodi, setelah terjadinya pengikatan maka terjadi endositosis yang merupakan proses fogositosis (pembentukan fogosom), dan terjadi fusi lisosomdan fogosom yang menyebabkan kerusakan antigen dan pencernaan antigen, setelah antigen tercerna produk mikroba dilepas dan musnahlah antigen tersebut.

2)      Makrofag

Sel fagosit, seperti monosit dapat berdiferensiasi menjadi sel makrofag. Di dalam hati terdapat sel makrofag kupffer, di dalam kulit sel langerhans dan lain-lain. Karena sel makrofag lebin kompleks dari sel fagosit sel makrofag hidup lebih lama dan membentuk granul dengan produk lisozim, komplemen, interferon dan sitokin. Jadi, makrofag meruapakan alah satu pabrik penghasil pasukan sistem pertahanan tubuh.

3)      Natural Killer Cell (sel NK)

Sel NK merupakan bagian dari limfosit. Fungsi dari sel NK adalah sebagai sistem pertahanan tubuh nonspesifik, artinya semua antigen yang masuk ke wilayah sel NK akan berhadapan dengan sel NK.

4)      Sel Mast

Seperti halnya dengan sel NK,mkrofag dan fagosit, sel mast juga meruapkan sel pertahanan nonspesifik, di mana sel mast juga ikut berperan dalam reaksi alergi dari tubuh.

2.      Sistem  imun spesifik

Apabila antigen berhasil menghadapi sistem imun nonspesifik, maka sistem imun spesifik akan terangsang untuk diproduksi. Respon imun spesifik adalah perlawanan terhadap serangan antigen yang sudah  dikenal atau sudah tersensitasi. Oleh karenanya sel ini hanya mampu menghancurkan konfigurasi asing yang sudah dikenal.

Prosedur kerja dari sistemimun spesifik dimulai dengan pengenalan konfigurasi asing yang masuk, setelah dilakukan pengidentifikasian, antibodi akan mensensitasi sistem imun terhadap konfigurasi asing yang tadi masuk. Apabila suatu saat bertemu lagi dengan konfigurasi asing  tersebut antibodi akan memunculkan sensitasi akan konfigurasi asing tersebut, sehingga antibodi dapat memutuskan dengan cara apa konfigurasi asing tersebut diihancurkan.

1)      Sistem imun spesifik  humoral

Sistem imun spesifik humoral adalah sistem imun yangagennya terbuat dari cairan tubuh, yang berperan pada sistem imun ini adalah Limfosit B atau sel B yang berasal dari sumsum tulang belakang sel asal multipoten.

Antigen yang masuk spesifik sistem imun ini akanmerangsang terbentuknya sel B, kemudian sel ini berproliferasi dan berkembang menjadi plasma sel yang kemudian  membentuk antibodi sebagai pertahanan terhadap  serangan antigen.

2)      Sistem imun spesifik seluler

Dalam sistem imun spesifik seluler yang berperanadalah sel T yang dipsoduksi dari umsum tulang belakangdengan diferensiai di kelenjar timus.

v  Kerja sama antara sistem imun nonspesifik dengan sistem imun spesifik

Sitem imun dodspesifik dan sistem imunspesifik salning berinteraksi, di mana sistem imun nonspesifik merupakan perangsang terbentuknya sistem imun spesifik.

Berikut prosedur kerja sama antara sistem imun nonspesifik dengan sistem imun spesifik :

1.      Pada mulanya antigen masuk ke dalam tubuh

2.      Dengan masuknya antigen komplemen teraktivasi, sehinggaterjadi pertempuran antara antigen dengan komplemen danmerangsang sel yang terinfeksi antigen untuk melepaskan interferon.

3.      Dengan terlepasnya interferon sel NK teraktivasi, sehingga antigen yang lolos dari sistem pertahanan yang pertama akan menghadapi sel Nkini.

4.      Apabila sel NK kerepotan menghadapi antigen sel diaktifkan untuk mebantu sel NK dalam menghancurkan antigen tersebut. 

Adapun prosedur lengkapnya adalah sebagai berikut :

1.      antigen yang masuk akan dilawan oleh sistem imun nonspsifik fisik/mekanis

2.      antigen yang lolos akan ditahan sistem imun nonspesifik biokimia.

3.      antigen yang lolos akan behadapan dengan sistem imun nonspesifik humoral.

4.      jika lolos pemroduksian humoral meginaktivasi sel fagosit

5.      antigen yang tidak bisa di lawan dengan fagosit akan berhadapan dengan makrofag

6.      jika makrofag tidak bisa mengendalikan sel T. penolong menerima sinyal dari makrofag.

7.      pada saat itu juga sel T. pembunuh bersiap untuk memperbanyak diri guna melawan antigen

8.      setelah itu limfosit B teraktivasi dan mulai memroduksi antibodi yang sesuai.

9.      apabila antigen lebih tangguh sel T. siap terjun kembali melawan antigen

10.  jika antigen masih diraa lebih kuat sel NK teraktivasi dan mulai menyerbu antigen.

11.  sel T. penekan menghentikan proses ini jika sel NK tidak bisa berkutik melawan antigen

12.  setelah dapat menghancurkan antigen, antigen tersebut terlahteridentifikasi dan menjadi memori yang jika antigen tersebut datang lagi memori tersebut akan muncul, sehingga dapat memilih cara untuk membunuhnya. Hal  ini disebut dengan sensitasi. 

 

D.    KESIMPULAN

Sistem pertahanan tubuh kita adalah sistem yang selalu terjaga untuk mempertahankan tubuh dari invasi benda asing.

Dalam pertahanan tubuh terdiri banyak proses atau mekanisme yang berurutan, yang  kesemuanya saling berhubungan satu sama lain. yang kesemuanya terprogram dan  terencana.

Benda asing yang masuk ke dalam tubuh disebut dengan antigen. Antigen ini merangsang terbentuknya sistem imun. Antigen masuk ke dalam tubuh kita biasanya melalui kulit, pernapasan, pencernaaan, saluarn ekskresi dan reroduksi.

Antibodi adalah senjata yang tersusun dari protein guna melwan konfigurasi asingyang masuk ke dalam tubuh.

Sistem imun tubuh terbagi dua: nonspesifik yang sifatnya untuk semua antigen dan spesifik yang sifatnya hanya untuk antigen tertentu.

Proses perlawanan sistem imun tubuh terhadap antigen yang masuk dimulai dengan perlawanan yang dilakukan sistem imun yang nonspesifik, apabila sistem imun yang nonspesifik ini tidak dapat mengendalikan, maka sistem imun spesifik akanterjun membasmi antigen.

Dengan adanya peperangan antara antigen dengan antibodi akan menjadi memori, yang akan diingat jika bertemu kembali dengan antigen tersebut, sehingga dengan memori tersebut sistem imun tubuh dapat menentukan cara yang tepat dalam membasmi antigen tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

 v  Referensi dari buku :

Ø  Bratawidjaja, Karnen Garna. 2002. Imunologi Dasar.  FK-UI : Jakarta

Ø  Volk,Wesley A. dan Margaret F. Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Erlanggan : Jakarta

Ø  Pelczar Jr, Michael J.dan E. C. S. Chan. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2. UI-Press : Jakarta

Ø  Yahya, Harun. 2004. Sistem Kekebalan Tubuh dan Keajaiban di Dalamnya. Dzikra : Jakarta

 

v  Referensi dari internet :

Ø  http://www.kalbefarma.com/files

Ø  http:/www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=245172&kat_id=150

http://www.waspada.co.id/serba_serbi/kesehatan/artikel.php?article_id=86356