Minggu, 09 Agustus 2026

HIRARKI KEBUTUHAN MASLOW

 

     HIRARKI KEBUTUHAN MASLOW

    Lima tingkatan kebutuhan yang ingin dicapai manusia dalam kehidupannya adalah fisiologis, dan kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan ego (status dan penghargaan) dan aktualisasi diri.

Dalam Nasution (2023) disebutkan psikolog Abraham Maslow merumuskan teori motivasi manusia berdasarkan gagasan bahwa ada hierarki kebutuhan manusia. Hirarki kebutuhan Maslow terdiri dari lima tingkat kebutuhan manusia, yang diperingkat menurut tingkat kepentingan mulai dari kebutuhan tingkat rendah (biogenik) hingga kebutuhan tingkat tinggi (psikogenik). Teori ini menyatakan bahwa individu berusaha untuk memenuhi kebutuhan tingkat yang lebih rendah sebelum kebutuhan tingkat yang lebih tinggi. Tingkat kebutuhan terendah yang tidak terpuaskan memotivasi perilaku seseorang. Ketika kebutuhan itu terpenuhi dengan cukup baik, individu termotivasi untuk memenuhi kebutuhan di tingkat hierarki berikutnya. Ketika kebutuhan itu terpenuhi, kebutuhan di tingkat berikutnya adalah motivator utama seseorang, dan seterusnya.

Gambar Hiraki Kebutuhan Maslow

1)    PHYSIOLOGICAL NEEDS atau kebutuhan fisiologis. Menurut Maslow, kebutuhan fisiologis adalah tingkat pertama dan paling dasar dari kebutuhan manusia. Kebutuhan utama ini yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan biologis, termasuk makanan, air, udara, tempat tinggal, pakaian, dan seks serta semua kebutuhan biogenik.

2)    SAFETY NEEDS atau kebutuhan keamanan. Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi, kebutuhan keselamatan dan keamanan menjadi kekuatan pendorong di balik perilaku individu. Kebutuhan-kebutuhan ini tidak hanya berkaitan dengan keamanan fisik, tetapi juga dengan ketertiban, stabilitas, rutinitas, keakraban, dan kontrol atas kehidupan dan lingkungan seseorang. Misalnya, kesehatan dan ketersediaan perawatan kesehatan adalah masalah keamanan yang penting. Rekening tabungan, polis asuransi, pendidikan, dan pelatihan kejuruan adalah segala cara yang digunakan individu untuk memenuhi kebutuhan akan keamanan.

3)    SOCIAL NEEDS atau kebutuhan sosial. Tingkat ketiga hierarki Maslow terdiri dari kebutuhan sosial, seperti cinta, kasih sayang, kepemilikan, dan penerimaan.

4)    EGOISTIC NEEDS atau kebutuhan ego. Ketika kebutuhan sosial kurang lebih terpenuhi, tingkat keempat hierarki Maslow menjadi operatif. Tingkat ini mencakup kebutuhan egoistik, yaitu kebutuhan ego yang diarahkan ke dalam diri mencerminkan kebutuhan individu akan penerimaan diri, harga diri, kesuksesan, kemandirian, dan kepuasan pribadi. Kebutuhan ego yang diarahkan keluar termasuk kebutuhan untuk gengsi, reputasi, status, dan pengakuan dari orang lain.

5)    SELF-ACTUALIZATION NEEDS atau kebutuhan aktualisasi diri. Menurut Maslow, jika orang sudah cukup memenuhi kebutuhan ego mereka, mereka pindah ke tingkat kelima. Kebutuhan aktualisasi diri mengacu pada keinginan individu untuk memenuhi potensinya yaitu untuk menjadi segala sesuatu yang mampu ia capai. Sebagai contoh, seorang seniman mengekspresikan dirinya di atas kanvas atau seorang ilmuwan peneliti mungkin berusaha untuk menemukan obat baru yang memberantas kanker.

 

Sumber :

Nasution, Olivia Barcelona. (2023). Hirarki Kebutuhan Maslow. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara. https://www.stieykpn.ac.id/read/440/hirarki-kebutuhan-maslow.html#:~:text=Menurut%20Maslow%2C%20kebutuhan%20fisiologis%20adalah,seks%20serta%20semua%20kebutuhan%20biogenik.

PEMBEDA ANTARMANUSIA SECARA INDIVIDU SEBAGAI KEBESARAN TUHAN YME

 

    PEMBEDA ANTARMANUSIA SECARA INDIVIDU SEBAGAI KEBESARAN TUHAN YME

    Pembeda antarmanusia secara individu sebagai kebesaran Tuhan YME adalah harga diri, individu, totalitas dan motivasi.

a.   Harga diri

Dalam Tirtawinata (2020) pengertian Harga Diri adalah sebagai berikut.

1)    Menurut Stuart dan Sundeen harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya. Dapat diartikan bahwa harga diri menggambarkan sejauh mana individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten.

2)    Menurut Gilmore dikatakan bahwa: “….self esteem is a personal judgement of worthiness that is a personal that is expressed in attitude the individual holds toward himself”. Pendapat ini menerangkan bahwa harga diri merupakan penilaian individu terhadap kehormatan dirinya, yang diekspresikan melalui sikap terhadap dirinya.

3)    Menurut Buss pengertian harga diri sebagai penilaian individu terhadap dirinya sendiri, yang sifatnya implisit dan tidak diverbalisasikan.

4)    Menurut Roger dan Maslow harga diri merupakan aspek yang penting dalam kepribadian, dimana harga diri adalah evaluasi yang menyeluruh untuk membentuk gambaran diri (self image).

Penelitian yang dilakukan oleh Hewitt, Scarpa & Luscher, dan beberapa yang ditemukan oleh Baumeister terkait harga diri adalah Harga diri relatif stabil dalam beberapa bulan dan dapat berubah terutama jika ada perubahan kejadian dalam hidup, misal lulus ujian, mendapat pekerjaan atau kehilangan pekerjaan. Harga diri tinggi pada masa kanak-kanak, menurun saat remaja, dan meningkat lagi saat usia dewasa sampai pada dewasa aksir kemudian menurun. Ada individu yang memiliki harga diri tinggi atau rendah secara keseluruhan namun ada juga harga diri tinggi atau rendah pada area tertentu, misal: harga diri tinggi di aspek sosial namun atau rendah di bidang akademis. Jadi bisa merata di segala aspek namun bisa juga fluktuasi. Harga diri rendah dapat berakibat seseorang mengalami depresi dan sebaliknya.

 Komponen harga diri adalah sebagai berikut.

1)  Harga diri merupakan kebutuhan manusia yang penting yang sangat vital bagi kelangsungan hidup dan normal, perkembangan yang sehat.

2) Harga diri muncul secara otomatis dari dalam berdasarkan keyakinan dan kesadaran seseorang.

3)  Harga diri seiring dengan pikiran, perilaku, perasaan dan tindakan seseorang.

b.   Individu

Menurut Hadi (2017) Individu menunjukkan kedudukan seseorang sebagai orang perorangan atau perseorangan. Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang perseorangan, berkaitan dengan perbedaan individual perseorangan. Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain.

Perbedaan individu ini berupa perbedaan antar manusia, baik sidik jari, DNA, retina mata dan lain sebagainya.

c.   Totalitas

Pengertian dalam KBBI (2023) totalitas/to·ta·li·tas/ n keutuhan; keseluruhan; kesemestaan. Adapun menurut Saputra (2020) ‘Apa itu totalitas? Anda melakukan pekerjaan penuh energi dengan hasil yang maksimal. Jika Anda melakukan itu, maka Anda bekerja dengan sepenuh hati’.  Adapun dalam Cahyono (2019) disebutkan bahwa Watson dan Tellegen berpendapat bahwa totalitas kerja adalah bagian dari taksonomi kesejahteraan yang lebih komprehensif yang terdiri dari dua dimensi independen, yakni pleasure atau kesenangan dan aktivasi. Bertentangan dengan pendapat Watson dan Tellegen, Schaufeli mengatakan kesenangan tidak termasuk dalam totalitas kerja. Jadi, poin utama dari totalitas adalah melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.

d.   Motivasi

Menurut Muhammad (2016) motivasi adalah perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai dengan dorongan yang berasal dari diri seseorang untuk mencapai tujuan. Dorongan dan reaksi-reaksi usaha yang disebabkan karena adanya kebutuhan untuk berprestasi dalam hidup. Hal tersebut menjadikan individu memiliki usaha, keinginan dan dorong untuk mencapai hasil belajar yang tinggi.

Sumber :

Cahyono, Monix. (2019). Totalitas Kinerja Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas Vii Di Madrasah Tsanawiyah Matholi’ul Falah Kandangmas Dawe Kudus. Undergraduate thesis, IAIN KUDUS.http://repository.iainkudus.ac.id/2986/7/5.%20BAB%20II.pdf

Hadi, A. (2017). Pentingnya pengenalan tentang perbedaan individu anak dalam efektivitas pendidikan. In Jurnal Inspirasi (Vol. 1, Issue 1). https://core.ac.uk/download/pdf/285985582.pdf

KBBI. (2023). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). https://kbbi.web.id/totalitas. Diakses pada 26 Januari 2024

Muhammad, Maryam. (2016). Pengaruh Motivasi Dalam Pembelajaran. In Lantanida Journal (Vol. 4, Issue 2).

Saputra, Erik Hadi. (2020). Totalitas. https://lldikti5.kemdikbud.go.id/home/detailpost/totalitas. Diakses pada 26 Januari 2024

Tirtawinata, C. M. (2020). Apakah Harga Diri Itu (Self Esteem). Binus. https://binus.ac.id/character-building/2020/04/apakah-harga-diri-itu-self-esteem/

CIRI PEMBEDA MANUSIA DAN HEWAN

       CIRI PEMBEDA MANUSIA DAN HEWAN

    Ciri yang membedakan manusia dengan hewan adalah berbudaya, berakal, berperasaan, bekerja, beragama dan berbahasa.

a.   Berbudaya

Budaya adalah suatu istilah yang mengandung arti segala daya cipta, rasa dan karsa yang dihasilkan oleh manusia. Bentuk budaya tersebut dapat berupa bangunan lengkap dengan arsitekturnya yang indah, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesenian, sastra, dan lain sebagainya (Setiawan, 2018).

Menurut Djamaluddin (2014) istilah cipta kadang–kadang berarti permunculan sesuatu yang belum pernah ada, kadang–kadang berarti pikiran. Misalnya Tuhan menciptakan alam semesta, mempunyai arti bahwa Allah membuat dan memunculkan sesuatu berupa alam semesta yang pada waktu sebelumya belum pernah ada. Dari tidak ada bahan sesuatu menjadi ada, contoh lain di bidang seni (abstrak) mempunyai arti. Komponis Gesang telah menciptakan lagu Bengawan solo oleh komponis gesang sebelum itu belum ada pernah lagu Bengawan Solo. Perlu diingat bahwa ketika membuatnya diperlukan bahan–bahan baku, antara lain: objek atau sasaran yang akan dijadikan suatu judullambang keindahan alam sekitar bengawan solo (benda konkrit) dan karya sastra yang indah itu berupa bahasa dan rangkaian kalimat yang memerlukan pemikiran, nada dan irama yang memerlukan perasaan halus (benda abstrak). Terwujudnya keinginan untuk memunculkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada dan itu selalu didahului oleh serangkaian pemikiran-pemikiran. Dari beberapa contoh ditarik pengertian bahwa : istilah cipta Tuhan berarti mengadakan alam. Istilah cipta manusia: mengubah alam. Manusia mengubah alam dengan cita, laku dan perbuatannya. Cita dan laku perbuatannya bersumber dari dalam jiwa, dilahirkan oleh jiwa karena hewan tak berjiwa tidaklah dapat mengubah alam. Bahkan ia dijadikan manusia sebagai objek untuk diubah bagi keperluan manusia.

Rasa atau perasaan adalah pernyataan tentang sesuatu yang ada kaitannya dengan keadaan jiwa seseorang. Adapun timbulnya keadaan jiwa kadang–kadang dalam bentuk rasa suka, kadang juga dalam bentuk rasa tidak suka. Rasa suka adalah rasa yang menyenangkan misalnya enak, lezat, gembira, indah dan sebagainya, dan perasaan yang tidak menyenangkan seperti mual, jengkel, gelisah takut dan sebagainya. Adapun ciri-ciri perasaan adalah sebagai berikut.

1)  Perasaan tidak pernah berdiri sendiri

Perasaan selalu berkaitan dengan gejala–gejala jiwa yang lain, misalnya teringat masa lalu, memikirkan sesuatu, menghayalkan sesuatu, berfantasi dan sebagainya. Timbulnya perasaan itu selalu di awali dengan sesuatu hal.

2)  Perasaan selalu bersifat perseorangan

Bila ada dua orang atau lebih melihat sesuatu hal, maka ditimbulkan oleh masing–masing orang itu berbeda antara satu dengan yang lain, padahal obyek sama (yang mereka lihat adalah sama). Misalnya pada suatu hari ada beberapa orang melihat suatu peristiwayang terjadi yaitu penjambret tertangkap basah, kemudian dikeroyok secara ramai–ramai dan dipukuli hingga badannya luka–uka dan bercucuran darah. Perasaan orang berbeda–beda melihat hal tersebut, ada yang merasa kasihan dan iba dan ada juga yang merasa terus berteriak pukul dia.

Dari contoh di atasdapat disimpulkan bahwa setiaporang mempunyai perasaan yang berbeda–beda, atau dengan kata lain bahwa perasaan itu bersifat perseorangan.

Karsa memiliki arti kehendak dan dorongan nafsu pokok. Kehendak adalah suatu tenaga yang bekerja dan datang dari dalam diri seseorang yang sedang dalam keadaan sadar dan mempunyai suatu tujuan tertentu karena terdorong oleh rangsangan yang diserap dalam panca indera. Hampir semua tingkah laku di sebabkan oleh tenaga–tenaga yang bekerja di dalam dirinya. Ketika membicarakan fungsi jiwa, telah diterangkan bahwa pikiran dan perasan membentuk kesadaran. Jalinan pikiran dan perasaan melahirkan hasrat, keinginan, kehendak, tekad dan lain –lainnya. Kemauan adalah awal tindakan. Kemauanlah yang membedakan manusia dari makhluk–makhluk lainnya.. Dorongan nafsu pokok termasuk kehendak atau keinginan, juga merupakan suatu tenaga yang bekerja dan datang dari dalam diri seseorang yang sedang dalam kesadaran sadar, dan tenaga-tenaga yang demikian, manusia tidak dapat hidup, jadi dorongan nafsu itu merupakan daya jiwa. Ia merupakan suatu kelengakapan yang tidak dapat terpisah dari kehidupan jasmaniayah (biologis). Dorongan nafsu yang merupakan tenaga–tenaga dari dalam diri seseorang itu pada garis besarnya dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu dorongan nafsu mempertahankan diri, dorongan nafsu mempertahankan jenis dan dorongan nafsu mengembangkan diri.

Dari penjelasan di atas, maka hanya manusia lah yang mampu menciptakan budaya, tidak dengan hewan (lain). Dengan budaya terciptalah keindahan, sistem nilai di masyarakat (religi, organisasi), sistem mata pencaharian, teknologi, sains, bahasa, dll (shame or guilty culture).

b.   Berakal

Menurut Imam Ghazali dalam Cholik (2015) kegiatan berpikir seperti mengkhayal, mengingat, estimasi, representasi, dan kerja indra bersama adalah daya-daya yang berdiri sendiri yang digerakkan oleh substansi pertama, yaitu akal. Jadi dengan akal lah manusia mampu menganalisis, mempertimbangkan, memutuskan, mencapai kebebasan dan kesadaran, dan menciptakan teknologi.

Dalam Djamaluddin (2014) disebutkan “berakal atau berpikir adalah menemukan hubungan–hubungan, menentukan sangkut paut”. Definisi ini pendek, tetapi mempunyai arti dan makna yang tepat. Berpikir biasanya merupakan jawaban dari suatu pertanyaan apa dan mengapa tentang suatu hal. Sebagai contoh : “kalau sedang musim panen, harga beras turun”. Ungkapan yang demikian itu sudah di ketahui kebenarannya pada setiap orang, karena merupakan hasil pemikiran. Pertanyaan: Apakah musim panen itu? Jawaban: “Pada saat yang hampir sama para petani menuai atau memetik hasil pertaniannya berupa padi. Dengan demikian persediaan padi melimpah ruah di semua tempat”. Pertayaannya mengapa harga beras menjadi turun?”. Jawaban : ”ketika musim panen (pada waktu yang bersamaan) para petani sebagai produsen menawarkan hasil panennya dalam jumlah yang besar, rakyat sebagai konsumen, permintaan beras tidak bertambah. Oleh karena itu imbangan antara penawaran dan permintaan berubah,lebih banyak penawaran daripada permintaan, sehingga terjadi persaingan antar petani/ produsen untuk menjual hasil berasnya dengan cara banting harga karena membutuhkan uang tunai untuk belanja harian, akibatnya harga beras menjadi turun. Berdasarkan contoh diatas, maka dapat disimpulkan tentang proses berpikir sebagi berikut.

1)  Panca indera menyerap keadaan, telinga mendengar berita bahwa di mana-mana sedang terjadi panen padi, mata melihat kesibukan para petani sedang mengangkut hasil panen dari sawah dan menjemurnya di pekarangan.

2)  Hasil serapan panca indera itu merupakan data. (Kasus panen padi itu: persaingan antara produsen, banting harga, jumlah konsumen yang tetap, perubahan perimbangan antara penawaran dan permintaan beras,kesemuanya itu termasuk data).

3)  Semua data yang telah dikumpulkan selengkap–lengkapnya, dari semua data yang tersedia timbul bermacam–macam tafsir (interpretasi) tentang kemungkinan–kemungkinan yang akan sedang dan telah terjadi.

4)  Mengadakan penyelidikan tentang akibat–akibat dari setiap kemungkinan itu.

5)  Mengadakan penyelidikan–penyelidikan tentang akibat–akibat dari setiap kemungkinan itu.

6)  Akhirnya ditemukan mata rantai hubunganantara yang satu dengan yang lain, kemudian ditetapkanlah hubungannya.

c.   Berperasaan

Seperti yang disebutkan di atas rasa atau perasaan adalah pernyataan tentang sesuatu yang ada kaitannya dengan keadaan jiwa seseorang. Adapun timbulnya keadaan jiwa kadang–kadang dalam bentuk rasa suka, kadang juga dalam bentuk rasa tidak suka. Rasa suka adalah rasa yang menyenangkan misalnya enak, lezat, gembira, indah dan sebagainya, dan perasaan yang tidak menyenangkan seperti mual, jengkel, gelisah takut dan sebagainya. Adapun ciri-ciri perasaan adalah sebagai berikut.

1) Perasaan tidak pernah berdiri sendiri

Perasaan selalu berkaitan dengan gejala–gejala jiwa yang lain, misalnya teringat masa lalu, memikirkan sesuatu, menghayalkan sesuatu, berfantasi dan sebagainya. Timbulnya perasaan itu selalu di awali dengan sesuatu hal.

2) Perasaan selalu bersifat perseorangan

Bila ada dua orang atau lebih melihat sesuatu hal, maka ditimbulkan oleh masing–masing orang itu berbeda antara satu dengan yang lain, padahal obyek sama (yang mereka lihat adalah sama). Misalnya pada suatu hari ada beberapa orang melihat suatu peristiwayang terjadi yaitu penjambret tertangkap basah, kemudian dikeroyok secara ramai–ramai dan dipukuli hingga badannya luka–uka dan bercucuran darah. Perasaan orang berbeda–beda melihat hal tersebut, ada yang merasa kasihan dan iba dan ada juga yang merasa terus berteriak pukul dia.

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa setiap orang mempunyai perasaan yang berbeda–beda, atau dengan kata lain bahwa perasaan itu bersifat perseorangan Perasaan meliputi rasa senang, susah, cinta, benci, bahagia, sengsara, simpati, empati dsb.

d.   Bekerja

Menurut Widharta, et al. (2015) bekerja adalah kegiatan manusia yang di lakukan secara rutin atas dasar kewajiban dan tanggung jawab untuk dirinya sendiri,orang lain juga Perusahaan tanpa merugikan siapapun. Dalam pekerjaan terkandung tiga aspek yang harus dipenuhi individu secara nalar, yaitu sebagai berikut.

1)  Aktifitas yang dilakukan karena ada dorongan tanggung jawab.

2)  Apa yang dilakukan karena kesengajaan dan terencana. Oleh karena itu terkandung didalamnya suatu gabungan antara rasa dan rasio.

3)  Yang dilakukan karena ada tujuan yang luhur, yang memberi makna bagi dirinya. Bukan hanya sekedar kepuasan biologis akan tetapi untuk mewujudkan yang diinginkannya agar dirinya mempunyai arti.

Bekerja ini dilakukan dengan sadar untuk hasil dan kondisi yang lebih baik.

e.   Beragama

Menurut Hasan (2022) manyak ahli menyebutkan agama berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti kacau. Jamak agama berarti tidak kacau. Dengan demikian agama itu adalah peraturan, yaitu peraturan yang mengatur keadaan manusia, maupun mengenai sesuatu yang gaib, mengenai budi pekerti dan pergaulan hidup bersama. Ada beberapa istilah dari agama, antara lain religi, religion (Inggris), religie (Belanda), religio (Bahasa Latin), dien (Arab). Dalam bahasa Arab, agama di kenal dengan kata al-din dan al-milah. Kata al-din mengandung beberapa arti al-mulk (kerajaan), al-izz (kejayaan), al-dzull (kehinaan), al-ikrah (pemaksaan), al-ihsan (kebajikan), aladat (kebiasaan), al-ibadat (pengabdian), al-tha‟at (taat), alislam al-tauhid (penyerahan dan mengesakan Tuhan). Agama adalah proses hubungan manusia yang dirasakan terhadap sesuatu yang diyakininya, bahwa sesuatu lebih tinggi dari pada manusia. Sedangkan definisi lain menyebutkan agama sebagai system simbol, sistem keyakinan, sistem nilai dan sistem perilaku yang terlembaga, yang kesemuanya terpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai maknawi (ultimate Mean

Hipotetiking).

Dengan beragama maka munculnya sikap beriman, bertakwa, bersabar, bersyukur dan lain sebagainya.

f.    Berbahasa

Menurut Herniti (2010) bahasa adalah salah satu ciri yang paling khas manusiawi yang membedakannya dari makhluk lain. Bahasa membuat manusia menjadi makhluk yang bermasyarakat karena bahasa merupakan sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan, ide-ide, keinginan, dan perasaan dari pembicara kepada lawan bicara.

Bahasa dapat berupa verbal dan non verbal, lisan dan non tulisan dan lain sebagainya.

 

Sumber :

Cholik, A. A. (2015). Relasi Akal dan Hati menurut al-Ghazali. KalimaH, 13(2), 287. https://doi. org/10. 21111/klm. v13i2. 290

Hasan, Maulana Achmad (2022) Implementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama dengan Metode Insersi Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus Kurikulum dan Buku Ajar Pendidikan Agama Islam Di SMA NU Al-Ma’ruf Kudus). Masters Thesis, IAIN KUDUS. http://repository.iainkudus.ac.id/8906/5/5.%20BAB%20II.pdf

Djamaluddin, A. (2014). FILSAFAT PENDIDIKAN (Educational Phylosophy). https://jurnal. umpar. ac. id/index. php/istiqra/article/view/208/181

Herniti, Ening. (2010). Bahasa dan Kelahirannya. Adabiyyat, 9 (1). pp. 107-132. ISSN 1412-3509 https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/39901/1/Bahasa%20dan%20Kelahirannya.pdf

Setiawan, Daryanto. (2018). Dampak Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Terhadap Budaya Impact of Information Technology Development and Communication on Culture Daryanto Setiawan. SIMBOLIKA, 4(1). http://ojs. uma. ac. id/index. php/simbolika

Widharta, Prayogi Harry, Maroah, Sity dan Wardhana, Andy. (2015). Pengaruh Etika Kerja Islami Terhadap Kinerja Karyawan Di Pegadaian Syariah Cabang Blauran Surabaya. Other thesis, Universitas Muhammadiyah Surabaya.

PENDIDIKAN FORMAL, NONFORMAL DAN INFORMAL

PENDIDIKAN FORMAL, NONFORMAL DAN INFORMAL

Berdasarkan UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Pasal 1 disebutkan :

a.     Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

1)    Jenjang  pendidikan  formal  terdiri  atas  pendidikan  dasar,  pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (Pasal 14).

2)    Jenis   pendidikan   mencakup   pendidikan   umum,   kejuruan,   akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus (pasal 15).

3)    Jalur, jenjang, dan jenis pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau Masyarakat (Pasal 16).

b.     Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Poin-poin terkait pendidikan nonformal yang disebutkan di dalam Pasal 26 adalah tercantum dalam ayat-ayat sebagai berikut.

1)    Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah,  dan/atau  pelengkap  pendidikan  formal  dalam  rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

2)    Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

3)    Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan  hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

4)    Satuan   pendidikan   nonformal   terdiri   atas   lembaga  kursus,   lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

5)    Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat   yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

 

6)    Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

7)    Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3),   ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

c.     Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Poin-poin terkait pendidikan informal yang disebutkan di dalam Pasal 27 adalah tercantum dalam ayat-ayat sebagai berikut.

1)    Kegiatan   pendidikan   informal   yang   dilakukan   oleh   keluarga   dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

2)    Hasil  pendidikan  sebagaimana  dimaksud  dalam  ayat  (1)  diakui  sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

3)    Ketentuan  mengenai  pengakuan  hasil  pendidikan  informal  sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Sumber : UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. https://peraturan.bpk.go.id/Details/43920/uu-no-20-tahun-2003 (diakses pada tanggal 13 Januari 2023)

 

 

PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN

 

      PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN

     Menurut Amiwati (n.d.) ilmu pengetahuan ialah sekumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan runtut melalui metode ilmiah. Metode ilmiah atau disebut juga metode penelitian adalah prosedur atau langkah-langkah sistematis dalam mendapatkan pengetahuan. Dengan kata lain, metode ilmiah adalah cara memperoleh dan menyusun pengetahuan. Beda Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan terletak pada: “Pengetahuan” adalah bahan ilmu, dan baru bisa menjawab tentang apa, sedangkan “Ilmu Pengetahuan” menjawab tentang mengapa suatu kenyataan atau kejadian”. Jadi, ilmu pengetahuan merupakan sekumpulan pengetahuan dalam bidang tertentu yang disusun secara sistematis, menggunakan metode keilmuan, dapat dipelajari dan diajarkan, dan memiliki nilai guna tertentu. Syarat ilmupengetahuan adalah memiliki objek dan metode ilmiah, atau memiliki dimensi/aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis.

Sedangkan menurut Ernest Nagel dalam Basuki (n.d.) secara rinci membedakan pengetahuan (common sense) dengan ilmu pengetahuan (science). Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut.

1)    Dalam common sense informasi tentang suatu fakta jarang disertai penjelasan tentang mengapa dan bagaimana. Common sense tidak melakukan pengujian kritis hubungan sebabakibat antara fakta yang satu dengan fakta lain. Sedang dalam science di samping diperlukan uraian yang sistematik, juga dapat dikontrol dengan sejumlah fakta sehingga dapat dilakukan pengorganisasian dan pengklarifikasian berdasarkan prinsip-prinsip atau dalil-dalil yang berlaku.

2)    Ilmu pengetahuan menekankan ciri sistematik. Penelitian ilmiah bertujuan untuk mendapatkan prinsip-prinsip yang mendasar dan berlaku umum tentang suatu hal. Artinya dengan berpedoman pada teori-teori yang dihasilkan dalam penelitian-penelitian terdahulu, penelitian baru bertujuan untuk menyempurnakan teori yang telah ada yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Sedang common sense tidak memberikan penjelasan (eksplanasi) yang sistematis dari berbagai fakta yang terjalin. Di samping itu, dalam common sense cara pengumpulan data bersifat subjektif, karena common sense sarat dengan muatan-muatan emosi dan perasaan.

3)    Dalam menghadapi konflik dalam kehidupan, ilmu pengetahuan menjadikan konflik sebagai pendorong untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan berusaha untuk mencari, dan mengintroduksi pola-pola eksplanasi sistematik sejumlah fakta untuk mempertegas aturan-aturan. Dengan menunjukkan hubungan logis dari proposisi yang satu dengan lainnya, ilmu pengetahuan tampil mengatasi konflik.

4)    Kebenaran yang diakui oleh common sense bersifat tetap, sedang kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu diusik oleh pengujian kritis. Kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu dihadapkan pada pengujian melalui observasi maupun eksperimen dan sewaktu-waktu dapat diperbaharui atau diganti.

5)    Perbedaan selanjutnya terletak pada segi bahasa yang digunakan untuk memberikan penjelasan pengungkapan fakta. Istilah dalam common sense biasanya mengandung pengertian ganda dan samar-samar. Sedang ilmu pengetahuan merupakan konsep-konsep yang tajam yang harus dapat diverifikasi secara empirik.

6)    Perbedaan yang mendasar terletak pada prosedur. Ilmu pengetahuan berdasar pada metode ilmiah. Dalam ilmu pengetahuan alam (sains), metoda yang dipergunakan adalah metoda pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedang ilmu sosial dan budaya juga menggunakan metode pengamatan, wawancara, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Dalam common sense cara mendapatkan pengetahuan hanya melalui pengamatan dengan panca indera.

Sumber :

Amiwati. (n.d.). Metodologi Penelitian. https://elearning.univpgri-palembang.ac.id/pluginfile.php/111672/course/overviewfiles/1.%20PENDAHULUAN.pdf?forcedownload=1

Basuki (n.d.). Pengetahuan dengan Ilmu Pengetahuan Telaah Filosofis. http://amheru.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.1