POSTULAT, ASUMSI, PARADIGMA, KERANGKA BERPIKIR, HIPOTESIS DAN TEORI
Dalam
filsafat ilmu dan filsafat pendidikan ada konsep: 1) postulat; 2) asumsi; 3)
paradigma; 1) kerangka berpikir; 5) hipotesis; 6) teori. Berikut pengertian dan
penjelasan dari kajian filsafat pendidikan dengan contohnya.
1)
Postulat dalam bahasa Inggris: postulate; dan dalam bahasa latinnya
postulatum, dari postulare yang artinya meminta, menuntut. Istilah ini biasanya
digunakanuntuk menunjukkan proposisi-proposisi yang merupakan titik tolak
pencarian yang bukandefinisi, atau perandaian sementara, tidak juga sedemikian
pasti sehingga mereka diangkatsebagai aksioma. Proposisi-proposisi itu
ditentukan sebagai benar dan digunakan tanpa pembuktian. Postulat menjadi salah
satu kelompok istlah yang saling berkaitan, termasuk definisi, asumsi,
hipotesis, dan aksioma (Handoyo & Ekaningsih, 2019). Dalam filsafat
pendidikan, postulat mungkin berupa prinsip-prinsip dasar yang dianggap benar
tanpa perlu dibuktikan lagi. Contohnya adalah setiap individu memiliki hak
untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Sumber : Handoyo, E., & Ekaningsih, L. (2019). Filsafat Ilmu.
Penerbit Cipta Prima Nusantara : Semarang
2)
Asumsi adalah sesuatu yang anggap benar, tanpa harus memberikan bukti (Firdaus,
et al., 2023). Jadi asumsi adalah ide atau keyakinan yang dianggap benar
tanpa bukti konkret. Dalam konteks pendidikan, asumsi dapat berupa keyakinan
tentang cara belajar siswa atau konsep tentang peran guru dalam proses belajar
mengajar. Contohnya adalah setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda.
Sumber : Firdaus, A., Anggriawan, A., Nurfauziah, A., Mahmudah, G.,
& Yusup Sidik, M. (2023). Asumsi-Asumsi Dasar Penelitian Tindakan Kelas.
Jurnal Kreativitas Mahasiswa, 1(2), 2023. https://www.riset-iaid.net/index.php/jpm/article/view/1458/827
3)
Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata.
Paradigma tertanam kuat dalam sosialisasi para penganut dan praktisinya.
Paradigma menunjukkan pada mereka apa yang penting, absah, dan masuk akal.
Paradigma juga bersifat normatif, menunjukkan kepada praktisinya apa yang harus
dilakukan tanpa perlu melakukan pertimbangan eksistensial atau epitemologis
yang panjang (Mulyana, 2003). Jadi, paradigma adalah kerangka pemikiran atau
cara pandang yang mengatur cara kita memahami dunia. Dalam filsafat pendidikan,
paradigma bisa merujuk pada sudut pandang umum tentang bagaimana pendidikan
seharusnya dijalankan. Contohnya, paradigma pendidikan yang berfokus pada
pembelajaran yang inklusif, yang memasukkan semua siswa tanpa memandang
perbedaan.
Sumber : Mulyana, Deddy. (2003). Metodologi Penelitian Kualitatif.
PT Remaja Rosdakarya : Bandung
4)
Kerangka berpikir menjelaskan sementara
terhadap gejala yang
menjadi objek permasalahan
kita. Kerangka berpikir disusun
berdasarkan tinjauan pustaka
dan hasil Penelitian
yang relevan. Kerangka berpikir merupakan
argumentasi peneliti dalam merumuskan hipotesis dengan menggunakan logika
deduktif (untuk metode kuantitatif)
dengan memakai pengetahuan
ilmiah sebagai premis-premis
dasarnya. Kerangka berpikir
merupakan buatan peneliti sendiri (bukan dari peneliti lain), yakni cara peneliti
berargumentasi dalam me-rumuskan
hipotesis. Argumentasi itu
harus analisis, sistematis,
dan menggunakan teori yang relevan. Pendapat lain kerangka berpikir
merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan
beragam aspek yang
sudah diidentifikasi.
Kerangka berpikir penelitian
lalah dasar pemikiran dari penelitian yang disintesiskan dari
fakta-fakta, observasi dan telaah kepustakaan.Kerangka berpikir memuat teori
atau dalil serta konsep-konsep yang menjadi dasar
dalampenelitian.Kerangkaberpikir ini menjelaskan hubungan dan keterkaitan antar
variabel.Kerangka berpikir dapat disajikan
dalam bentuk bagan
yang menunjukkan alur
pikir peneliti dan
keterkaitan antar variabel yang ditelitinya (Syahputri, et
al., 2023). Jadi, kerangka berpikir adalah struktur yang digunakan untuk
memahami dan menganalisis suatu masalah atau fenomena. Dalam konteks
pendidikan, ini bisa menjadi metode atau teori tertentu yang digunakan untuk
membantu pendidik memahami bagaimana siswa belajar. Contohnya, pendekatan
konstruktivis dalam pendidikan yang menekankan pada konstruksi pengetahuan oleh
siswa.
Sumber : Syahputri, A. Z., Fallenia, F. D., & Syafitri, R.
(2023). Kerangka Berfikir Penelitian Kualitatif. Tarbiyah: Jurnal Ilmu
Pendidikan dan Pengajaran. https://jurnal.diklinko.id/index.php/tarbiyah/https://jurnal.diklinko.id/index.php/tarbiyah/
5)
Hipotesis dibangun oleh
para ahli dari berbagai sudut pandang. Hipotesis adalah
dugaan tentatif tunggal digunakan menyusun teori
atau eksperimen dan diuji.
Hipotesis adalah pernyataan formal menyajikan hubungan
yang diharapkan antara variabel
independen dan variabel dependen.
Hipotesis adalah jawaban sementara yang hendak diuji kebenarannya melalui
penelitian. Berdasarkan uraian definisi dari beberapa ahli, bisa ditarik
kesimpulan bahwa dalam
hipotesis terdapat beberapa komponen
penting yakni dugaan sementara, hubungan antar variabel dan
uji kebenaran (Yam & Taufik, 2021). Jadi, hipotesis adalah pernyataan yang
diusulkan untuk diuji kebenarannya. Dalam konteks pendidikan, hipotesis bisa
berupa prediksi tentang bagaimana metode atau model pengajaran tertentu akan
memengaruhi hasil belajar siswa. Sebagai contohnya adalah penggunaan teknologi
dalam pengajaran akan meningkatkan keterlibatan siswa dan penggunanaan model
pembelajaran inquiry dalam pembelajaran sistem pencernaan akan meningkatkan
kemampuan keterampilan proses sains siswa.
Sumber : Yam, J. H., & Taufik, R. (2021). Hipotesis Penelitian
Kuantitatif. 3(2). https://ejournal.unis.ac.id/index.php/perspektif/article/view/1540/1121
6) Teori merupakan prinsip-prinsip yang disusun secara sistematis,
prinsip-prinsip tersebut berusaha menjelaskan hubungan-hubungan yang ada.
Setiap teori akan mengembangkan konsep-konsep yang digunakan sebagai
simbol-simbol tertentu. Secara umum teori adalah sebuah konsep abstrak yang mengindikasikan adanya
hubungan di antara konsep-konsep tersebut yang membantu kita memahami sebuah
fenomena. Sehingga dapat dikatakan bahwa teori adalah suatu kerangka kerja
konseptual untuk mengatur pengetahuan dan menyediakan suatu cetak biru untuk
melakukan beberapa tindakan selanjutnya (Isti’adah, 2020). Jadi, teori adalah
kerangka konseptual yang luas yang menjelaskan fenomena berdasarkan bukti-bukti
yang ada. Dalam pendidikan, teori-teori
mungkin menjelaskan proses belajar mengajar secara menyeluruh, seperti teori
kognitif tentang bagaimana siswa memproses informasi atau teori perkembangan
sosial tentang bagaimana lingkungan memengaruhi perkembangan anak.
Sumber : Isti’adah, Feida Noorlaila. (2020).
Teori-Teori Belajar dalam Pendidikan. Edu Publisher : Tasikmalaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar