Manakib K.H. Ikhsan Turmudzi Bumiayu Brebes bisa didownload di
https://drive.google.com/file/d/1yTljD_E4VHLE-VREfyaZzp-1nxT_lnXB/view?usp=drive_link
Cirebon, Jawa Barat
Manakib K.H. Ikhsan Turmudzi Bumiayu Brebes bisa didownload di
https://drive.google.com/file/d/1yTljD_E4VHLE-VREfyaZzp-1nxT_lnXB/view?usp=drive_link
HIRARKI KEBUTUHAN MASLOW
Lima
tingkatan kebutuhan yang ingin dicapai manusia dalam kehidupannya adalah fisiologis,
dan kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan ego (status dan
penghargaan) dan aktualisasi diri.
Dalam Nasution (2023) disebutkan psikolog Abraham Maslow merumuskan
teori motivasi manusia berdasarkan gagasan bahwa ada hierarki kebutuhan
manusia. Hirarki kebutuhan Maslow terdiri dari lima tingkat kebutuhan manusia,
yang diperingkat menurut tingkat kepentingan mulai dari kebutuhan tingkat
rendah (biogenik) hingga kebutuhan tingkat tinggi (psikogenik). Teori ini
menyatakan bahwa individu berusaha untuk memenuhi kebutuhan tingkat yang lebih rendah
sebelum kebutuhan tingkat yang lebih tinggi. Tingkat kebutuhan terendah yang
tidak terpuaskan memotivasi perilaku seseorang. Ketika kebutuhan itu terpenuhi
dengan cukup baik, individu termotivasi untuk memenuhi kebutuhan di tingkat
hierarki berikutnya. Ketika kebutuhan itu terpenuhi, kebutuhan di tingkat
berikutnya adalah motivator utama seseorang, dan seterusnya.
Gambar Hiraki Kebutuhan Maslow
1)
PHYSIOLOGICAL
NEEDS atau kebutuhan fisiologis. Menurut Maslow, kebutuhan fisiologis adalah
tingkat pertama dan paling dasar dari kebutuhan manusia. Kebutuhan utama ini
yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan biologis, termasuk makanan, air,
udara, tempat tinggal, pakaian, dan seks serta semua kebutuhan biogenik.
2)
SAFETY
NEEDS atau kebutuhan keamanan. Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi,
kebutuhan keselamatan dan keamanan menjadi kekuatan pendorong di balik perilaku
individu. Kebutuhan-kebutuhan ini tidak hanya berkaitan dengan keamanan fisik,
tetapi juga dengan ketertiban, stabilitas, rutinitas, keakraban, dan kontrol
atas kehidupan dan lingkungan seseorang. Misalnya, kesehatan dan ketersediaan
perawatan kesehatan adalah masalah keamanan yang penting. Rekening tabungan,
polis asuransi, pendidikan, dan pelatihan kejuruan adalah segala cara yang
digunakan individu untuk memenuhi kebutuhan akan keamanan.
3)
SOCIAL
NEEDS atau kebutuhan sosial. Tingkat ketiga hierarki Maslow terdiri dari
kebutuhan sosial, seperti cinta, kasih sayang, kepemilikan, dan penerimaan.
4)
EGOISTIC
NEEDS atau kebutuhan ego. Ketika kebutuhan sosial kurang lebih terpenuhi,
tingkat keempat hierarki Maslow menjadi operatif. Tingkat ini mencakup
kebutuhan egoistik, yaitu kebutuhan ego yang diarahkan ke dalam diri
mencerminkan kebutuhan individu akan penerimaan diri, harga diri, kesuksesan,
kemandirian, dan kepuasan pribadi. Kebutuhan ego yang diarahkan keluar termasuk
kebutuhan untuk gengsi, reputasi, status, dan pengakuan dari orang lain.
5)
SELF-ACTUALIZATION
NEEDS atau kebutuhan aktualisasi diri. Menurut Maslow, jika orang sudah cukup memenuhi
kebutuhan ego mereka, mereka pindah ke tingkat kelima. Kebutuhan aktualisasi
diri mengacu pada keinginan individu untuk memenuhi potensinya yaitu untuk
menjadi segala sesuatu yang mampu ia capai. Sebagai contoh, seorang seniman
mengekspresikan dirinya di atas kanvas atau seorang ilmuwan peneliti mungkin
berusaha untuk menemukan obat baru yang memberantas kanker.
Sumber
:
Nasution,
Olivia Barcelona. (2023). Hirarki Kebutuhan Maslow. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
Yayasan Keluarga Pahlawan Negara. https://www.stieykpn.ac.id/read/440/hirarki-kebutuhan-maslow.html#:~:text=Menurut%20Maslow%2C%20kebutuhan%20fisiologis%20adalah,seks%20serta%20semua%20kebutuhan%20biogenik.
PEMBEDA ANTARMANUSIA SECARA INDIVIDU SEBAGAI KEBESARAN TUHAN YME
Pembeda antarmanusia secara individu sebagai kebesaran Tuhan YME adalah harga diri, individu, totalitas dan motivasi.
a.
Harga diri
Dalam Tirtawinata
(2020) pengertian Harga Diri adalah sebagai berikut.
1)
Menurut Stuart
dan Sundeen harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai
dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya. Dapat
diartikan bahwa harga diri menggambarkan sejauh mana individu tersebut menilai
dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan
kompeten.
2)
Menurut Gilmore
dikatakan bahwa: “….self esteem is a personal judgement of worthiness that is a
personal that is expressed in attitude the individual holds toward himself”.
Pendapat ini menerangkan bahwa harga diri merupakan penilaian individu terhadap
kehormatan dirinya, yang diekspresikan melalui sikap terhadap dirinya.
3)
Menurut Buss pengertian
harga diri sebagai penilaian individu terhadap dirinya sendiri, yang sifatnya
implisit dan tidak diverbalisasikan.
4)
Menurut Roger dan
Maslow harga diri
merupakan aspek yang penting dalam kepribadian, dimana harga diri adalah
evaluasi yang menyeluruh untuk membentuk gambaran diri (self image).
Penelitian yang
dilakukan oleh Hewitt, Scarpa & Luscher, dan beberapa yang ditemukan oleh Baumeister terkait harga diri adalah Harga diri relatif stabil dalam beberapa bulan dan dapat berubah
terutama jika ada perubahan kejadian dalam hidup, misal lulus ujian, mendapat
pekerjaan atau kehilangan pekerjaan. Harga diri tinggi pada masa kanak-kanak,
menurun saat remaja, dan meningkat lagi saat usia dewasa sampai pada dewasa aksir
kemudian menurun. Ada individu yang memiliki harga diri tinggi atau rendah secara
keseluruhan namun ada juga harga diri tinggi atau rendah pada area tertentu,
misal: harga diri tinggi di aspek sosial namun atau rendah di bidang akademis.
Jadi bisa merata di segala aspek namun bisa juga fluktuasi. Harga diri
rendah dapat berakibat seseorang mengalami depresi dan sebaliknya.
1)
Harga
diri merupakan kebutuhan manusia yang penting yang sangat vital bagi kelangsungan
hidup dan normal, perkembangan yang sehat.
2) Harga diri muncul secara otomatis dari dalam
berdasarkan keyakinan dan kesadaran seseorang.
3)
Harga
diri seiring dengan pikiran, perilaku, perasaan dan tindakan seseorang.
b.
Individu
Menurut Hadi
(2017) Individu menunjukkan kedudukan seseorang sebagai orang perorangan atau
perseorangan. Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang
perseorangan, berkaitan dengan perbedaan individual perseorangan. Ciri dan sifat
orang yang satu berbeda dengan yang lain.
Perbedaan individu ini berupa perbedaan antar manusia, baik sidik jari,
DNA, retina mata dan lain sebagainya.
c.
Totalitas
Pengertian
dalam KBBI (2023) totalitas/to·ta·li·tas/ n keutuhan; keseluruhan; kesemestaan.
Adapun menurut Saputra (2020) ‘Apa itu totalitas? Anda melakukan pekerjaan
penuh energi dengan hasil yang maksimal. Jika Anda melakukan itu, maka Anda
bekerja dengan sepenuh hati’. Adapun dalam
Cahyono (2019) disebutkan bahwa Watson dan Tellegen berpendapat bahwa totalitas
kerja adalah bagian dari taksonomi kesejahteraan yang lebih komprehensif yang
terdiri dari dua dimensi independen, yakni pleasure atau kesenangan dan
aktivasi. Bertentangan dengan pendapat Watson dan Tellegen, Schaufeli mengatakan
kesenangan tidak termasuk dalam totalitas kerja. Jadi, poin utama dari
totalitas adalah melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.
d.
Motivasi
Menurut
Muhammad (2016) motivasi adalah perubahan tenaga di
dalam diri seseorang yang ditandai dengan dorongan yang berasal dari diri seseorang untuk mencapai tujuan.
Dorongan dan reaksi-reaksi usaha yang disebabkan karena adanya kebutuhan untuk berprestasi
dalam hidup. Hal tersebut menjadikan individu memiliki usaha, keinginan dan dorong untuk
mencapai hasil belajar yang tinggi.
Sumber :
Cahyono, Monix. (2019). Totalitas Kinerja Guru Dalam
Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas Vii Di
Madrasah Tsanawiyah Matholi’ul Falah Kandangmas Dawe Kudus. Undergraduate
thesis, IAIN KUDUS.http://repository.iainkudus.ac.id/2986/7/5.%20BAB%20II.pdf
Hadi, A. (2017). Pentingnya pengenalan tentang perbedaan
individu anak dalam efektivitas pendidikan. In Jurnal Inspirasi (Vol. 1, Issue
1). https://core.ac.uk/download/pdf/285985582.pdf
KBBI. (2023). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). https://kbbi.web.id/totalitas. Diakses
pada 26 Januari 2024
Muhammad, Maryam. (2016). Pengaruh Motivasi Dalam
Pembelajaran. In Lantanida Journal (Vol. 4, Issue 2).
Saputra, Erik Hadi. (2020). Totalitas. https://lldikti5.kemdikbud.go.id/home/detailpost/totalitas.
Diakses pada 26 Januari 2024
Tirtawinata, C. M. (2020). Apakah Harga Diri Itu (Self
Esteem). Binus.
https://binus.ac.id/character-building/2020/04/apakah-harga-diri-itu-self-esteem/
CIRI PEMBEDA MANUSIA DAN HEWAN
Ciri
yang membedakan manusia dengan hewan adalah berbudaya, berakal, berperasaan,
bekerja, beragama dan berbahasa.
a.
Berbudaya
Budaya adalah suatu istilah yang
mengandung arti segala daya cipta, rasa dan karsa yang dihasilkan oleh manusia.
Bentuk budaya tersebut dapat berupa bangunan lengkap dengan arsitekturnya yang
indah, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesenian, sastra, dan lain sebagainya
(Setiawan, 2018).
Menurut
Djamaluddin (2014) istilah cipta kadang–kadang berarti permunculan sesuatu yang
belum pernah ada, kadang–kadang berarti pikiran. Misalnya Tuhan menciptakan
alam semesta, mempunyai arti bahwa Allah membuat dan memunculkan sesuatu berupa
alam semesta yang pada waktu sebelumya belum pernah ada. Dari tidak ada bahan sesuatu
menjadi ada, contoh lain di bidang seni (abstrak) mempunyai arti. Komponis
Gesang telah menciptakan lagu Bengawan solo oleh komponis gesang sebelum itu
belum ada pernah lagu Bengawan Solo. Perlu diingat bahwa ketika membuatnya
diperlukan bahan–bahan baku, antara lain: objek atau sasaran yang akan
dijadikan suatu judullambang keindahan alam sekitar bengawan solo (benda
konkrit) dan karya sastra yang indah itu berupa bahasa dan rangkaian kalimat
yang memerlukan pemikiran, nada dan irama yang memerlukan perasaan halus (benda
abstrak). Terwujudnya keinginan untuk memunculkan sesuatu yang sebelumnya tidak
pernah ada dan itu selalu didahului oleh serangkaian pemikiran-pemikiran. Dari
beberapa contoh ditarik pengertian bahwa : istilah cipta Tuhan berarti
mengadakan alam. Istilah cipta manusia: mengubah alam. Manusia mengubah alam
dengan cita, laku dan perbuatannya. Cita dan laku perbuatannya bersumber dari
dalam jiwa, dilahirkan oleh jiwa karena hewan tak berjiwa tidaklah dapat
mengubah alam. Bahkan ia dijadikan manusia sebagai objek untuk diubah bagi
keperluan manusia.
Rasa atau
perasaan adalah pernyataan tentang sesuatu yang ada kaitannya dengan keadaan
jiwa seseorang. Adapun timbulnya keadaan jiwa kadang–kadang dalam bentuk rasa
suka, kadang juga dalam bentuk rasa tidak suka. Rasa suka adalah rasa yang
menyenangkan misalnya enak, lezat, gembira, indah dan sebagainya, dan perasaan
yang tidak menyenangkan seperti mual, jengkel, gelisah takut dan sebagainya.
Adapun ciri-ciri perasaan adalah sebagai berikut.
1)
Perasaan
tidak pernah berdiri sendiri
Perasaan selalu berkaitan dengan
gejala–gejala jiwa yang lain, misalnya teringat masa lalu, memikirkan sesuatu,
menghayalkan sesuatu, berfantasi dan sebagainya. Timbulnya perasaan itu selalu
di awali dengan sesuatu hal.
2)
Perasaan
selalu bersifat perseorangan
Bila ada dua orang atau lebih
melihat sesuatu hal, maka ditimbulkan oleh masing–masing orang itu berbeda
antara satu dengan yang lain, padahal obyek sama (yang mereka lihat adalah
sama). Misalnya pada suatu hari ada beberapa orang melihat suatu peristiwayang
terjadi yaitu penjambret tertangkap basah, kemudian dikeroyok secara
ramai–ramai dan dipukuli hingga badannya luka–uka dan bercucuran darah. Perasaan
orang berbeda–beda melihat hal tersebut, ada yang merasa kasihan dan iba dan
ada juga yang merasa terus berteriak pukul dia.
Dari contoh di atasdapat disimpulkan
bahwa setiaporang mempunyai perasaan yang berbeda–beda, atau dengan kata lain
bahwa perasaan itu bersifat perseorangan.
Karsa memiliki
arti kehendak dan dorongan nafsu pokok. Kehendak adalah suatu tenaga yang
bekerja dan datang dari dalam diri seseorang yang sedang dalam keadaan sadar
dan mempunyai suatu tujuan tertentu karena terdorong oleh rangsangan yang
diserap dalam panca indera. Hampir semua tingkah laku di sebabkan oleh
tenaga–tenaga yang bekerja di dalam dirinya. Ketika membicarakan fungsi jiwa,
telah diterangkan bahwa pikiran dan perasan membentuk kesadaran. Jalinan
pikiran dan perasaan melahirkan hasrat, keinginan, kehendak, tekad dan lain
–lainnya. Kemauan adalah awal tindakan. Kemauanlah yang membedakan manusia dari
makhluk–makhluk lainnya.. Dorongan nafsu pokok termasuk kehendak atau
keinginan, juga merupakan suatu tenaga yang bekerja dan datang dari dalam diri
seseorang yang sedang dalam kesadaran sadar, dan tenaga-tenaga yang demikian,
manusia tidak dapat hidup, jadi dorongan nafsu itu merupakan daya jiwa. Ia
merupakan suatu kelengakapan yang tidak dapat terpisah dari kehidupan
jasmaniayah (biologis). Dorongan nafsu yang merupakan tenaga–tenaga dari dalam
diri seseorang itu pada garis besarnya dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu dorongan
nafsu mempertahankan diri, dorongan nafsu mempertahankan jenis dan dorongan
nafsu mengembangkan diri.
Dari penjelasan
di atas, maka hanya manusia lah yang mampu menciptakan budaya, tidak dengan
hewan (lain). Dengan budaya terciptalah keindahan, sistem nilai di masyarakat
(religi, organisasi), sistem mata pencaharian, teknologi, sains, bahasa, dll
(shame or guilty culture).
b.
Berakal
Menurut Imam Ghazali dalam Cholik (2015)
kegiatan berpikir seperti mengkhayal, mengingat, estimasi, representasi, dan
kerja indra bersama adalah daya-daya yang berdiri sendiri yang digerakkan oleh
substansi pertama, yaitu akal. Jadi dengan akal lah manusia mampu menganalisis,
mempertimbangkan, memutuskan, mencapai kebebasan dan kesadaran, dan menciptakan
teknologi.
Dalam
Djamaluddin (2014) disebutkan “berakal atau berpikir adalah menemukan
hubungan–hubungan, menentukan sangkut paut”. Definisi ini pendek, tetapi
mempunyai arti dan makna yang tepat. Berpikir biasanya merupakan jawaban dari suatu
pertanyaan apa dan mengapa tentang suatu hal. Sebagai contoh : “kalau sedang musim
panen, harga beras turun”. Ungkapan yang demikian itu sudah di ketahui
kebenarannya pada setiap orang, karena merupakan hasil pemikiran. Pertanyaan:
Apakah musim panen itu? Jawaban: “Pada saat yang hampir sama para petani menuai
atau memetik hasil pertaniannya berupa padi. Dengan demikian persediaan padi
melimpah ruah di semua tempat”. Pertayaannya mengapa harga beras menjadi
turun?”. Jawaban : ”ketika musim panen (pada waktu yang bersamaan) para petani sebagai
produsen menawarkan hasil panennya dalam jumlah yang besar, rakyat sebagai konsumen,
permintaan beras tidak bertambah. Oleh karena itu imbangan antara penawaran dan
permintaan berubah,lebih banyak penawaran daripada permintaan, sehingga terjadi
persaingan antar petani/ produsen untuk menjual hasil berasnya dengan cara
banting harga karena membutuhkan uang tunai untuk belanja harian, akibatnya
harga beras menjadi turun. Berdasarkan contoh diatas, maka dapat disimpulkan tentang
proses berpikir sebagi berikut.
1)
Panca
indera menyerap keadaan, telinga mendengar berita bahwa di mana-mana sedang terjadi
panen padi, mata melihat kesibukan para petani sedang mengangkut hasil panen dari
sawah dan menjemurnya di pekarangan.
2)
Hasil
serapan panca indera itu merupakan data. (Kasus panen padi itu: persaingan antara
produsen, banting harga, jumlah konsumen yang tetap, perubahan perimbangan antara
penawaran dan permintaan beras,kesemuanya itu termasuk data).
3)
Semua
data yang telah dikumpulkan selengkap–lengkapnya, dari semua data yang tersedia
timbul bermacam–macam tafsir (interpretasi) tentang kemungkinan–kemungkinan yang
akan sedang dan telah terjadi.
4)
Mengadakan
penyelidikan tentang akibat–akibat dari setiap kemungkinan itu.
5)
Mengadakan
penyelidikan–penyelidikan tentang akibat–akibat dari setiap kemungkinan itu.
6)
Akhirnya
ditemukan mata rantai hubunganantara yang satu dengan yang lain, kemudian
ditetapkanlah hubungannya.
c.
Berperasaan
Seperti yang disebutkan di atas rasa
atau perasaan adalah pernyataan tentang sesuatu yang ada kaitannya dengan
keadaan jiwa seseorang. Adapun timbulnya keadaan jiwa kadang–kadang dalam
bentuk rasa suka, kadang juga dalam bentuk rasa tidak suka. Rasa suka adalah
rasa yang menyenangkan misalnya enak, lezat, gembira, indah dan sebagainya, dan
perasaan yang tidak menyenangkan seperti mual, jengkel, gelisah takut dan
sebagainya. Adapun ciri-ciri perasaan adalah sebagai berikut.
1) Perasaan tidak pernah berdiri sendiri
Perasaan selalu berkaitan dengan
gejala–gejala jiwa yang lain, misalnya teringat masa lalu, memikirkan sesuatu,
menghayalkan sesuatu, berfantasi dan sebagainya. Timbulnya perasaan itu selalu
di awali dengan sesuatu hal.
2) Perasaan selalu bersifat perseorangan
Bila ada dua orang atau lebih
melihat sesuatu hal, maka ditimbulkan oleh masing–masing orang itu berbeda
antara satu dengan yang lain, padahal obyek sama (yang mereka lihat adalah
sama). Misalnya pada suatu hari ada beberapa orang melihat suatu peristiwayang
terjadi yaitu penjambret tertangkap basah, kemudian dikeroyok secara
ramai–ramai dan dipukuli hingga badannya luka–uka dan bercucuran darah.
Perasaan orang berbeda–beda melihat hal tersebut, ada yang merasa kasihan dan
iba dan ada juga yang merasa terus berteriak pukul dia.
Dari contoh di
atas dapat disimpulkan bahwa setiap orang mempunyai perasaan yang berbeda–beda,
atau dengan kata lain bahwa perasaan itu bersifat perseorangan Perasaan
meliputi rasa senang, susah, cinta, benci, bahagia, sengsara, simpati, empati
dsb.
d.
Bekerja
Menurut Widharta, et al.
(2015) bekerja adalah kegiatan manusia yang di lakukan secara rutin atas dasar
kewajiban dan tanggung jawab untuk dirinya sendiri,orang lain juga Perusahaan
tanpa merugikan siapapun. Dalam pekerjaan terkandung tiga aspek yang harus
dipenuhi individu secara nalar, yaitu sebagai berikut.
1)
Aktifitas
yang dilakukan karena ada dorongan tanggung jawab.
2)
Apa
yang dilakukan karena kesengajaan dan terencana. Oleh karena itu terkandung
didalamnya suatu gabungan antara rasa dan rasio.
3)
Yang
dilakukan karena ada tujuan yang luhur, yang memberi makna bagi dirinya. Bukan
hanya sekedar kepuasan biologis akan tetapi untuk mewujudkan yang diinginkannya
agar dirinya mempunyai arti.
Bekerja ini dilakukan dengan sadar untuk hasil dan kondisi yang
lebih baik.
e.
Beragama
Menurut Hasan (2022) manyak ahli
menyebutkan agama berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “a” yang berarti tidak
dan “gama” yang berarti kacau. Jamak agama berarti tidak kacau. Dengan demikian
agama itu adalah peraturan, yaitu peraturan yang mengatur keadaan manusia,
maupun mengenai sesuatu yang gaib, mengenai budi pekerti dan pergaulan hidup
bersama. Ada beberapa istilah dari agama, antara lain religi, religion
(Inggris), religie (Belanda), religio (Bahasa Latin), dien (Arab). Dalam bahasa
Arab, agama di kenal dengan kata al-din dan al-milah. Kata al-din mengandung
beberapa arti al-mulk (kerajaan), al-izz (kejayaan), al-dzull (kehinaan),
al-ikrah (pemaksaan), al-ihsan (kebajikan), aladat (kebiasaan), al-ibadat
(pengabdian), al-tha‟at (taat), alislam al-tauhid (penyerahan dan mengesakan
Tuhan). Agama adalah proses hubungan manusia yang dirasakan terhadap sesuatu
yang diyakininya, bahwa sesuatu lebih tinggi dari pada manusia. Sedangkan
definisi lain menyebutkan agama sebagai system simbol, sistem keyakinan, sistem
nilai dan sistem perilaku yang terlembaga, yang kesemuanya terpusat pada
persoalan-persoalan yang dihayati sebagai maknawi (ultimate Mean
Hipotetiking).
Dengan beragama
maka munculnya sikap beriman, bertakwa, bersabar, bersyukur dan lain
sebagainya.
f.
Berbahasa
Menurut Herniti (2010) bahasa adalah
salah satu ciri yang paling khas manusiawi yang membedakannya dari makhluk
lain. Bahasa membuat manusia menjadi makhluk yang bermasyarakat karena bahasa
merupakan sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan, ide-ide, keinginan, dan
perasaan dari pembicara kepada lawan bicara.
Bahasa dapat
berupa verbal dan non verbal, lisan dan non tulisan dan lain sebagainya.
Sumber :
Cholik, A. A. (2015). Relasi Akal
dan Hati menurut al-Ghazali. KalimaH, 13(2), 287. https://doi. org/10. 21111/klm. v13i2. 290
Hasan, Maulana Achmad (2022)
Implementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama dengan Metode Insersi Pada Mata
Pelajaran Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus Kurikulum dan Buku Ajar
Pendidikan Agama Islam Di SMA NU Al-Ma’ruf Kudus). Masters Thesis, IAIN KUDUS. http://repository.iainkudus.ac.id/8906/5/5.%20BAB%20II.pdf
Djamaluddin, A. (2014). FILSAFAT
PENDIDIKAN (Educational Phylosophy). https://jurnal. umpar. ac. id/index. php/istiqra/article/view/208/181
Herniti, Ening. (2010). Bahasa dan
Kelahirannya. Adabiyyat, 9 (1). pp. 107-132. ISSN 1412-3509
https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/39901/1/Bahasa%20dan%20Kelahirannya.pdf
Setiawan, Daryanto. (2018). Dampak
Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Terhadap Budaya Impact of
Information Technology Development and Communication on Culture Daryanto
Setiawan. SIMBOLIKA, 4(1). http://ojs. uma. ac. id/index. php/simbolika
Widharta, Prayogi Harry, Maroah,
Sity dan Wardhana, Andy. (2015). Pengaruh Etika Kerja Islami Terhadap Kinerja
Karyawan Di Pegadaian Syariah Cabang Blauran Surabaya. Other thesis,
Universitas Muhammadiyah Surabaya.
PENDIDIKAN FORMAL, NONFORMAL DAN INFORMAL
Berdasarkan UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dalam Pasal 1 disebutkan
:
a. Pendidikan formal adalah
jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
1) Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi (Pasal 14).
2) Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik,
profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus (pasal 15).
3) Jalur, jenjang, dan jenis
pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan yang diselenggarakan
oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau Masyarakat (Pasal 16).
b. Pendidikan nonformal
adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan
secara terstruktur dan berjenjang. Poin-poin terkait pendidikan
nonformal yang disebutkan di dalam Pasal 26 adalah tercantum dalam ayat-ayat sebagai berikut.
1) Pendidikan nonformal
diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang
berfungsi sebagai pengganti,
penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka
mendukung pendidikan sepanjang hayat.
2) Pendidikan nonformal berfungsi
mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan
pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan
kepribadian profesional.
3) Pendidikan nonformal meliputi
pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan
kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan,
pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta
pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
4) Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga
pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis
taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.
5) Kursus dan pelatihan
diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal
pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri,
mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan
ke jenjang yang lebih tinggi.
6) Hasil pendidikan nonformal dapat
dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses
penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau
Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.
7) Ketentuan mengenai penyelenggaraan
pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat
(3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Pemerintah.
c. Pendidikan informal
adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Poin-poin terkait
pendidikan informal yang disebutkan di dalam Pasal 27 adalah tercantum dalam ayat-ayat
sebagai berikut.
1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan
lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
2) Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diakui sama
dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai
dengan standar nasional pendidikan.
3) Ketentuan mengenai pengakuan hasil pendidikan informal sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Sumber : UU RI No
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. https://peraturan.bpk.go.id/Details/43920/uu-no-20-tahun-2003 (diakses pada tanggal 13 Januari
2023)
PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Menurut
Amiwati (n.d.) ilmu pengetahuan ialah sekumpulan pengetahuan yang tersusun secara
sistematis dan runtut melalui metode ilmiah. Metode ilmiah atau disebut juga
metode penelitian adalah prosedur atau langkah-langkah sistematis dalam
mendapatkan pengetahuan. Dengan kata lain, metode ilmiah adalah cara memperoleh
dan menyusun pengetahuan. Beda Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan terletak pada: “Pengetahuan”
adalah bahan ilmu, dan baru bisa menjawab tentang apa, sedangkan “Ilmu
Pengetahuan” menjawab tentang mengapa suatu kenyataan atau kejadian”. Jadi,
ilmu pengetahuan merupakan sekumpulan pengetahuan dalam bidang tertentu yang
disusun secara sistematis, menggunakan metode keilmuan, dapat dipelajari dan
diajarkan, dan memiliki nilai guna tertentu. Syarat ilmupengetahuan adalah
memiliki objek dan metode ilmiah, atau memiliki dimensi/aspek ontologis,
epistemologis dan aksiologis.
Sedangkan menurut Ernest Nagel dalam
Basuki (n.d.) secara rinci membedakan pengetahuan (common sense) dengan ilmu
pengetahuan (science). Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut.
1)
Dalam
common sense informasi tentang suatu fakta jarang disertai penjelasan tentang mengapa
dan bagaimana. Common sense tidak melakukan pengujian kritis hubungan
sebabakibat antara fakta yang satu dengan fakta lain. Sedang dalam science di
samping diperlukan uraian yang sistematik, juga dapat dikontrol dengan sejumlah
fakta sehingga dapat dilakukan pengorganisasian dan pengklarifikasian
berdasarkan prinsip-prinsip atau dalil-dalil yang berlaku.
2)
Ilmu
pengetahuan menekankan ciri sistematik. Penelitian ilmiah bertujuan untuk
mendapatkan prinsip-prinsip yang mendasar dan berlaku umum tentang suatu hal.
Artinya dengan berpedoman pada teori-teori yang dihasilkan dalam penelitian-penelitian
terdahulu, penelitian baru bertujuan untuk menyempurnakan teori yang telah ada
yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Sedang common sense tidak memberikan
penjelasan (eksplanasi) yang sistematis dari berbagai fakta yang terjalin. Di samping
itu, dalam common sense cara pengumpulan data bersifat subjektif, karena common
sense sarat dengan muatan-muatan emosi dan perasaan.
3)
Dalam
menghadapi konflik dalam kehidupan, ilmu pengetahuan menjadikan konflik sebagai
pendorong untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan berusaha untuk
mencari, dan mengintroduksi pola-pola eksplanasi sistematik sejumlah fakta
untuk mempertegas aturan-aturan. Dengan menunjukkan hubungan logis dari
proposisi yang satu dengan lainnya, ilmu pengetahuan tampil mengatasi konflik.
4)
Kebenaran
yang diakui oleh common sense bersifat tetap, sedang kebenaran dalam ilmu pengetahuan
selalu diusik oleh pengujian kritis. Kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu dihadapkan
pada pengujian melalui observasi maupun eksperimen dan sewaktu-waktu dapat diperbaharui
atau diganti.
5)
Perbedaan
selanjutnya terletak pada segi bahasa yang digunakan untuk memberikan penjelasan
pengungkapan fakta. Istilah dalam common sense biasanya mengandung pengertian
ganda dan samar-samar. Sedang ilmu pengetahuan merupakan konsep-konsep yang
tajam yang harus dapat diverifikasi secara empirik.
6)
Perbedaan
yang mendasar terletak pada prosedur. Ilmu pengetahuan berdasar pada metode
ilmiah. Dalam ilmu pengetahuan alam (sains), metoda yang dipergunakan adalah
metoda pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedang ilmu sosial
dan budaya juga menggunakan metode pengamatan, wawancara, eksperimen,
generalisasi, dan verifikasi. Dalam common sense cara mendapatkan pengetahuan
hanya melalui pengamatan dengan panca indera.
Sumber :
Amiwati. (n.d.). Metodologi Penelitian. https://elearning.univpgri-palembang.ac.id/pluginfile.php/111672/course/overviewfiles/1.%20PENDAHULUAN.pdf?forcedownload=1
Basuki (n.d.). Pengetahuan dengan Ilmu
Pengetahuan Telaah Filosofis. http://amheru.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.1