PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING/CTL)
A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Proses pembelajaran bukan sekedar mentransfer pengetahuan dari guru ke peserta
didik, tetapi berlangsung secara alamiah
dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalaminya, lebih
mementingkan strategi dari pada hasil pembelajaran, peserta didik didorong
untuk mengerti apa arti belajar, apa manfaatnya belajar, dan bagaimana
mencapainya. Dengan demikian mereka memposisikan diri sebagai pihak yang
membutuhkan bekal hidup di masa depan.
Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti
hubungan, konteks, suasana dan keadaan (konteks) (Hasibuan, 2015). Pembelajaran
kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) adalah sebuah sistem
pembelajaran yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan
makna, suatu pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan
menghubungkan muatan akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari.
“Contextual teaching is teaching that enables learning in wich student
aploy their academic understanding and abilities in a variety of in-and out of
school context to solve simulated or real world problems, both alone and with
others”, berarti pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang memungkinkan dimana peserta
didik dapat menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam banyak
konteks di dalam dan di luar sekolah untuk memecahkan masalah yang bersifat
simulatif maupun nyata, baik secara individu maupun bersama-sama (Hasibuan,
2015).
Pembelajaran ini lebih banyak
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan, mencoba, dan
mengalami sendiri (learning to do), peserta didik tidak sekedar pendengar
pasif. Pembelajaran ini mengutamakan pada pengetahuan dan pengalaman nyata
(real word learning), berfikir tingkat tinggi, berpusat pada peserta didik, peserta
didik aktif, kritis, kreatif, memecahkan masalah, peserta didik belajar
menyenangkan, mengasikkan, tidak membosankan (joyfull and quantum learning) dan
menggunakan berbagai sumber belajar (Nurhadi dan Agus Gerrad, 2003)
Pembelajaran kontekstual menyatakan bahwa pembelajaran seharusnya
bersifat kontekstual bagi guru. Selain itu pembelajaran juga harus bersifat
meaningful (bermakna) dan relevant (relevan) dengan situasi dan kondisi guru. Pembelajaran
kontekstual adalah suatu pembelajaran
yang menekankan pada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk
menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan
nyata. Pembelajaran kontekstual bertujuan untuk membekali peserta didik dengan
pengetahuan yang secara fleksibel dapat ditransfer dari satu permasalahan ke
permasalahan lain dan dari satu konteks ke konteks yang lain. Menurut Sears
(2003) pembelajaran kontekstual adalah konsep yang membantu guru menghubungkan
materi kelas dengan situasi dunia nyata. Pembelajaran kontekstual memotivasi
peserta didik untuk bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri dan
untuk menghubungkan pengetahuan dan penerapannya dalam berbagai situasi dalam
kehidupan mereka sendiri, sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja.
(Hasnawati, 2006). Sementara itu di Indonesia pembelajaran kontekstual dipahami
Sebagai konsep pembelajaran yang membantu guru menghubungkan materi
pembelajaran yang diajarkan dengan situasi dunia nyata bagi peserta didik, dan
membantu menghubungkan pengetahuan yang dimiliki peserta didik dengan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Trisnawati, 2015).
B. SEJARAH
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran kontekstual pertama muncul di Amerika pada periode awal
tahun 90-an. Pembelajaran kontekstual muncul sebagai respon atas desakan
berbagai pihak untuk melakukan perombakan pada sistem pendidikan tradisonal
Amerika (Setiyawan, 2010). Sistem pendidikan tradisional Amerika dinilai hanya
menekankan pada penguasaan isi, tanpa memberikan bekal keterampilan. Peserta didik hanya
sekedar menghafal pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh pengajar. Sampai
kemudian penemuan ilmiah saat itu menunjukkan bahwa justru hubungan antara isi
dan konteksnya itulah yang memberi makna dalam sebuah pembelajaran. Sehingga
proses belajar mengajar memungkinkan peserta didik memahami arti pelajaran yang
mereka pelajari. Akhirnya dengan dipelopori oleh gerakan Tech Prep pada awal
tahun 90-an maka mulailah pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan dan
kererampilan, mempelajari konsep-konsep abstrak dengan melakukan kegiatan
praktis, dan menghubungkan tugas sekolah dengan dunia nyata. Gerakan itulah
yang kemudian menjadi dasar penerapan pembelajaran kontekstual dalam
pembelajaran.
B. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN
KONTEKSTUAL
Dalam proses pembelajaran sebaiknya peserta didik tidak hanya dianggap
pasif sebagai penerima informasi, akan tetapi dipandang sebagai yang memiliki
potensi untuk berkembang. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran yang efektif, yang lebih memberdayakan
potensi peserta didik sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi
belajar peserta didik. Pembelajaran kontekstual dianggap sebagai yang memungkinkan peserta didik aktif
berperan serta dalam proses pembelajaran. Pembelajaran kontekstual merupakan yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dan mendorong peserta
didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari (Blanchard, 2001). Oleh karena itu, Pembelajaran kontekstual menjadi salah satu
alternatif untuk dapat mendorong peserta didik aktif dalam proses pembelajaran
dan belajar untuk mampu mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya dengan
kehidupan sehari-hari sehingga mereka lebih siap dalam menghadapi tantangan
global (Jhonson, 2000).
Beberapa item yang menjadi
karakteristik pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut.
1. Membuat komunikasi yang komunikatif
(making meaningfull conection). Peserta didik memposisikan diri sebagai orang
belajar aktif dalam mengembangkan minat secara individual, orang yang dapat
bekerja mandiri atau kerja kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil
berbuat (Laerning by doing).
2. Melakukan aktivitas-aktivitas yang
signifikan (doing significant work). Peserta didik mengkait-kaitkan antara
sekolah dan berbagai konteks dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan
sebagai anggota masyarakat.
3. Belajar dengan pengaturan sendiri
(self-regulated learning). Peserta didik melakukan kegiatan yang signifikan,
ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan
penentuan pilihan, dan ada produknya atau hasil yang sifatnya nyata.
4. Berkerjasama (colaborating). Guru
dan peserta didik berkolaborasi secara efektif dalam kelompok, guru membantu peserta
didik memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomonikasi.
5. Berpikir kritis dan kreatif
(critical and creative thinking). Peserta didik dapat berpikir ke tingkat yang
lebih tinggi, kritis dan kreatif dengan menganalisis, membuat sintesis,
memecahkan masalah,membuat keputusan dan menggunakan logika dan bukti-bukti.
6. Mengasuh atau memelihara pribadi peserta
didik (nurturing the individual). Peserta didik memelihara pribadinya dengan
mengetahui, memberi perhatian, memberi harapan-harapan yang
tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri walaupun peserta didik
memerlukan dukungan orang dewasa.
7. Mencapai standar yang tinggi
(reaching highsstandard). Peserta didik mengenal dan mencapai standar yang
tinggi, maka guru harus mengidentifikasi tujuan dan memotivasi peserta didik
untuk mencapainya. Guru menunjukan kepada peserta didik untuk mencapai
(excellece).
8. Dengan penilaian autentik (using
autentic assessment). Untuk tujuan yang baik (bermakna) peserta didik
mempergunakan pengetahuan akademik dalan dunia nyata. Contohnya, peserta didik dapat
menggambarkan informasi akademik yang telah dipelajarinya untuk dipublikasikan
dalam kehidupan nyata.
Menurut Johnson (2008) penerapan pembelajaran kontekstual dalam proses
pembelajaran menekankan pada tiga hal. Pertama, pembelajaran kontekstual
berfokus pada proses penemuan peserta didik terhadap topik. Proses belajar
didasarkan pada proses pengalaman langsung. Proses pembelajaran dalam kerangka pembelajaran
kontekstual adalah proses tidak hanya mengharapkan pelajaran dari peserta didik,
tetapi menemukan dan menemukan materi pembelajaran sendiri. Kedua, pembelajaran
kontekstual mendorong peserta didik untuk menemukan hubungan antara materi yang
dipelajari dengan realitas kehidupan nyata. Dengan kata lain, peserta didik
harus mampu memahami hubungan antara pengalaman belajar mereka di sekolah dan
kehidupan sehari-hari mereka. Ketiga, pembelajaran
kontekstual mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari.
pembelajaran kontekstual
mengharapkan peserta didik tidak hanya mampu memahami materi pelajaran, tetapi
memperbarui dan mengkontekstualisasikan topik untuk kehidupan sehari-hari.
Dengan kata lain, apa yang dipelajari di kelas melalui pembelajaran kontekstual tidak dimaksudkan
untuk dihafal, melainkan untuk dipahami, dipraktikkan, dan dibiasakan.
C. KOMPONEN
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching Larning/ CTL) yaitu pembelajaran yang membantu
guru dalam mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta
didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dengan kehidupan mereka sehari-hari. Nurhadi (2003)
menyatakan bahwa ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan
pembelajaran kontekstual di kelas. Ketujuh komponen tersebut adalah (1) konstruktivisme (constructivisme); (2) bertanya
(questioning); (3) pean (ing); (4) menemukan (inquiri); (5 masyarakat belajar
(learning community); (6) refleksi (reflection); dan (7) penilaian sebenarnya
(authentic assessment). Komponen-komponen tersebut dianggap dapat meningkatkan kemampuan peserta
didik dalam memecahkan masalah sehingga hasil belajarnya pun meningkat.
1. Konstruktivisme (Constructivisme)
Konstruktivisme merupakan landasan filosofis (berpikir) pembelajaran
kontekstual. Konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara
aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan dan pengetahuan terdahulu
dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Kegiatan belajar dikemas menjadi
proses mengonstruksi pengetahuan sehingga belajar dimulai dari apa yang
diketahui peserta didik. Diharapkan peserta didik mampu menemukan ide dan
pengetahuan, baik konsep maupun prinsip baru, menerapkan ide-ide, kemudian
peserta didik mencari strategi belajar yang efektif agar mencapai kompetensi
dan puas atas penemuannya (Mulyasa, 2009).
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru
dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan Menurut konstruktivisme,
pengetahuan itu memang berasal dari luar akan tetapi dikonstruksi dari dalam
diri seseorang (Sanjaya, 2006). Muslich (2009) mengemukakan konstruktivisme
adalah proses pembelajaran yang menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara
aktif, kreatif dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan dari
pengalaman belajar yang bermakna.
Konstruktivisme yaitu mengembangkan pikiran peserta didik untuk belajar
lebih baik dengan cara bekerja sendiri, mengkonstruksi sendiri, pengetahuan dan
ketrampilan barunya. Hal ini adalah landasan berpikir pembelajaran kontekstual.
Pengetahuan riil baginya adalah suatu yang dibangun atau ditemukan oleh peserta
didik sendiri. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang
harus diingat peserta didik, tetapi peserta didik harus merekonstruksi
pengetahuan itu kemudian mengartikan melalui pengalaman nyata.
2. Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang bermula dari “bertanya”. bertanya
(Questioning) merupakan strategi utama pembelajaran kontekstual. Bertanya dalam
pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan
menilai kemampuan berpikir peserta didik (Muslich, 2011). Dalam pembelajaran kontekstual
guru tidak menyampaikan informasi begitu saja tetapi memancing peserta didik
untuk dapat menemukannya sendiri. Oleh karena itu, peran bertanya sangat
penting sebagai cara guru untuk membimbing dan mengarahkan peserta didik
menemukan setiap materi yang dipelajarinya (Trianto, 2007).
Bertanya adalah mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan
dialog interaktif oleh keseluruhan unsur yang terlibat dalam komonitas belajar.
Dengan demikian pembelajaran lebih hidup, mendorong proses dan hasil
pembelajaran lebih luas dan mendalam. Dengan question mendorong peserta didik
selalu bersikap menolak suatu pendapat, ide atau teori secara mentah. Hal ini
mendorong sikap selalu ingin mengetahui dan mendalami (coriosity) berbagai
teori dan dapat mendorong untuk belajar lebih jauh.
Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab. Bertanya dapat
dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan
menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir (Sanjaya,
2006). Menurut Mulyasa (2009) menyebutkan ada 6 keterampilan bertanya dalam
kegiatan pembelajaran, yakni pertanyaan yang jelas dan singkat, memberi acuan,
memusatkan perhatian, memberi giliran dan menyebarkan pertanyaan, pemberian
kesempatan berpikir, dan pemberian tuntunan. Dalam pembelajaran melalui pembelajaran
kontekstual guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi
memancing agar peserta didik dapat menemukan sendiri.
3. Pemodelan (Modeling)
Pemodelan maksudnya ada yang bisa ditiru
dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu. itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu
atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dalam pembelajaran kontekstual,
guru bukan satu-satunya. dapat dirancang
dengan melibatkan peserta didik (Trianto, 2007).
Dalam pembelajaran perlu ada yang dapat dicontoh oleh peserta didik.
Terkait hal ini bisa berupa cara
mengoperasikan, cara melempar atau menendang bola dalam olah raga, cara
melafalkan dalam bahasa asing, atau guru memberi contoh cara mengerjakan
sesuatu. Ketika guru sanggup melakukan sesuatu maka peserta didik akan berfikir
sama bahwa dia juga bisa melakukannya.
Pean adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai
contoh yang dapat ditiru oleh setiap modeling merupakan azas yang cukup penting dalam pembelajaran pembelajaran kontekstual,
sebab melalui ing peserta didik dapat terhindar dari pembelajaran yang teoritis
(abstrak) yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme (Sanjaya, 2006). Konsep
pemodelan (modeling), dalam pembelajaran
kontekstual menyarankan bahwa pembelajaran ketrampilan dan pengetahuan tertentu
diikuti dengan yang bisa ditiru peserta
didik. Cara pembelajaran seperti ini, akan lebih cepat dipahami peserta didik
dari pada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada peserta didik tanpa
ditunjukan atau contohnya (Muslich,
2009).
4. Menemukan (Inquiry)
Menemukan (Inquiry) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran
kontekstual. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena,
dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang
diperoleh sendiri oleh peserta didik. Pengetahuan dan keterampilan yang
diperoleh peserta didik bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi
hasil dari menemukan sendiri. Langkah-langkah kegiatan inquiry yaitu merumuskan
masalah, mengamati atau melakukan observasi, menganalisis dan menyajikan hasil,
dan mengomunikasikan hasilnya pada pihak lain (Trianto, 2007).
Inquiry merupakan proses pembelajaran yang berdasarkan pada proses
pencarian penemuan melalui proses berfikir secara sistimatis, proses pemindahan
dari pengamatan menjadi pemahaman, peserta didik belajar dengan ketrampilan
berfikir kritis. Dalam hal ini guru harus merencpeserta didikan situasi
kondusif supaya peserta didik belajar dengan prosedur mengenali masalah,
menjawab pertanyaan, menggunakan prosedur penelitian (investigasi), menyiapkan
kerangka berfikir, hipotesis dan penjelasan yang relevan dengan pengalaman pada
dunia nyata.
Inquiry artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencairan dan
penemuan melalui proses berpikir secara Secara umum proses Inquiri dapat
dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: merumuskan masalah, mengajukan
hipotesa, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan membuat kesimpulan
(Sanjaya, 2006:265). Pendapat lain menyatakan inquiry merupakan proses pembelajaran
didasarkan pada pencarian dan penemuan. Kegiatan ini diawali dari pengamatan
terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk
menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh peserta didik. Pengetahuan dan
ketrampilan yang diperoleh peserta didik tidak dari hasil mengingat seperangkat
fakta, akan tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya Muslich
(2009:45).
5. Masyarakat Belajar (Learning
Community)
Masyarakat belajar merupakan sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan
belajar. Konsep masyarakat belajar (learning community) menyarankan agar hasil
pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Konsep belajar dalam
kelompok seperti ini memungkinkan peserta didik untuk dapat bertukar pengalaman
dan berbagi ide antara yang satu dengan yang lain. Hasil belajar diperoleh dari
“sharing” antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu dengan yang belum
tahu (Trianto, 2007).
Masyarakat belajar adalah pembelajaran yang didapat dari berkolaborasi
dengan orang lain. Dalan pembelajaran ini selalu dilakspeserta didikan
dalamkelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Peserta didik yang pandai
mengajari yang lemah, yang sudah tahu memberu tahu yang belum tahu dan
seterusnya. Dalam prakteknya terbentuklah kepompok-kelompok kecil, kelompok
besar, mendatangkan ahli ke kelas,bekolaborasi dengan kelas paralel, bekerja
kelompok dengan kakak kelas dan bekolaborasi dengan masyarakat.
Didasarkan pada pendapat Vygotsky, bahwa pengetahuan dan pemahaman
peserta didik banyak dibentuk oleh komunikasi dengan orang lain. Permasalahan
tidak mungkin dipecahkan sendirian, tetapi membutuhkan bantuan orang lain.
Konsep masyarakat belajar dalam pembelajaran kontekstual hasil pembelajaran
diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain, teman, antar kelompok, sumber
lain dan bukan hanya guru (Sanjaya, 2006). Muslich (2009) mengemukakan konsep
masyarakat belajar dalam pembelajaran kontekstual menyarankan agar hasil
pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari
dengan cara mengurutkan kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah
dilalui. Dalam pembelajaran kontekstual, guru memberikan kesempatan pada peserta
didik untuk merenung atau mengingat kembali apa yang telah disampaikannya
setiap berakhir proses pembelajaran (Trianto, 2007).
Refleksi merupakan suatu Upaya untuk melihat, mengorganisir, menganalisis,
mengklarifikasi dan mengevaluasi hal-hal yang telah dipelajari. Untuk
merealisasikan, di kelas dirancang pada stiap akhir pelajaran, guru menyisahkan
waktu untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik melakukan refleksi
dengan cara : pernyataan langsung dari peserta didik tentang apa apa yang
diperoleh setelah melakukan pembelajaran, catatan atau jurnal di buku peserta
didik, kesan dan saran peserta didik tentang pembelajaran hari itu, diskusi
dan ragam hasil karya.
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari
dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran
yang telah dilaluinya. Dalam proses pembelajaran dengan pembelajaran
kontekstual, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk merenung atau mengingat kembali apa yang telah
dipelajarinya (Sanjaya, 2006).
7. Penilaian yang Sebenarnya
(Authentic Assesment)
Assesment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan
gambaran perkembangan belajar peserta didik. Data yang dikumpulkan melalui
kegiatan penilaian bukanlah untuk mencari informasi tentang perolehan belajar peserta
didik. Pembelajaran yang benar sudah seharusnya ditekankan pada upaya membantu peserta
didik agar mampu mempelajari, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak
mungkin informasi di akhir pembelajaran (Trianto, 2007).
Untuk mengukur hasil pembelajaran selain dengan tes harus diukur juga
dengan assessment authentic yang dapat memberikan informasi yang benar dan
akurat tentang apa yang benar-benar diketahui dan bisa dilakukan peserta didik
atau tentang kualitas program pendidikan. Penilaian otentik adalah proses
pengumpulan data beragam data untuk melukiskan perkembangan belajar peserta
didik. Data tersebut berupa hasil tes tertulis, proyek (laporan kegiatan),
karya peserta didik, performance (penampilan presentasi) yang dirangkum dalam
foto folio peserta didik.
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan
informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan Penilaian ini diperlukan
untuk mengetahui apakah peserta didik benar-benar belajar atau tidak, apakah
pengalaman belajar peserta didik memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan
baik intelektual ataupun mental peserta didik. pembelajaran pembelajaran
kontekstual lebih menekankan pada proses belajar bukan sekedar pada hasil
belajar (Sanjaya, 2006). Muslich (2009) Penilaian yang sebenarnya (authentic
assessment) merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan
gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar peserta didik.
D. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Setiap hal pasti tidak terlepas dari kepemilikan atas kelebihan dan kekurangan.
Hal tersebut tentu juga berlaku pada pembelajaran kontekstual. terdapat
beberapa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh pembelajaran kontekstual.
menurut Suyadi (2015), kelebihan dan kekurangan pembelajaran kontekstual antara
lain adalah sebagai berikut.
1.
Kelebihan Pembelajaran Kontekstual
a. Pembelajaran kontekstual dapat
mendorong peserta didik menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan
situasi dunia nyata, peserta didik
secara tidak langsung diminta untuk memahami hubungan antara pengalaman
belajarnya di sekolah dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dapat
bereksplorasi, berdiskusi dan mampu berpikir kritis serta memecahkan masalah.
b. Pembelajaran kontekstual mampu
mendorong peserta didik untuk menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan nyata,
peserta didik tidak hanya diharapkan dapat memahami materi yang dipelajarinya,
tetapi bagimana materi itu dapat mewarnai perilaku/tingkahlaku
(karakter/akhlak) dalam kehiduoan sehari-hari.
c. Pembelajaran kontekstual
menekankan pada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi.
Maksudnya, proses belajar didasarkan pada proses pengalaman langsung. Proses
pembelajaran dalam kerangka pembelajaran kontekstual adalah melalui proses
menemukan dan menemukan materi pelajaran itu sendiri, bukan hanya mengharapkan peserta
didik untuk menerima materi pelajaran.
2.
Kekurangan Pembelajaran Kontekstual
a. Pembelajaran kontekstual
membutuhkan waktu yang lama bagi peserta didik untuk bisa memahami semua
materi.
b. Guru harus bekerja ekstra untuk
lebih intensif dalam membimbing, karena dalam pembelajaran kontekstual guru
tidak lagi berperan sebagai pusat informasi.
c. Peserta didik sering melakukan
kesalahan ketika mencoba menghubungkan mata pelajaran dengan realitas kehidupan
sehari-hari. Berdasarkan ini, peserta didik harus gagal berulang kali untuk
menemukan hubungan yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Blanchard,
A. (2001). Contextual Teaching And Learning. Jakarta: B.E.S.T.
Hasibuan,
M. Idrus (2015), ‘Model Pembelajaran Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching and Learning)’, Logaritma: Jurnal Ilmu-Ilmu Pendidikan Dan Sains, 2.01
Jhonson,
(2000). Contextual Teaching And Learning : What It Is And Why It’s Here To
Stay. Terjemahan Ibnu Setiawan. Bandung: Mlc.
Johnson,
E. B. (2008). Contextual Teaching Learning : Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar
Mengasyikkan dan Bermakna (I. Setiawan, Ed.). Bandung: Mizan.
Kadir, A. (2013). Konsep Pembelajaran Kontekstual di Sekolah. Dinamika
Ilmu, 13(1).’, Dinamika Ilmu, 13.1
Malika, D. L., Endjid, P.,
& Magdalena, I. (2023). Perbedaan Model
Metode Strategi Teknik dan Taktik Dalam
Pembelajaran peserta didik Kelas 4 SDN
Poris Pelawad 5 Kota Tangerang. Educatioanl Journal: General and Specific
Research, 3(Februari).
Mulyasa, Enco. (2009). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Muslich, Mansur. 2009. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan
Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
Nurhadi
B. Y., dan Agus Gerrad, S. (2003). Pembelajaran Konstektual (Contextual
Teaching and Learning/Pembelajaran kontekstual) dan Penerapannya dalam KBK.
Universitas Negeri Malang (Umpress): IKIP Malang.
Rosyidi, A. M. (2017). Model dan
Strategi Pembelajaran Diklat. Andragogi : Jurnal Diklat Teknis Pendidikan dan
Keagamaan, 5(1), 100-111.
Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Sears,
S. (2003). Introduction to Contextual Teaching and Learning. Bloomington
Indiana: The Phi Delta Kappa Educational Foundation.
Setiyawan,
E. (2010). Pembelajaran Kitab Kuning dengan Contextual Teaching and Learning di
MTs Manahijul Huda Ngagel-Dukuhseti-Pati (Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Walisongo). Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo. Retrieved from http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/95/1/Eko_Tesis_Sinopsis.pdf
Suyadi.
(2015). Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter (3rd ed.). Remaja Rosdakarya.
Trianto.
(2007). Inovasi Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar