Minggu, 09 Agustus 2026

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING/CTL)

 

 PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING/CTL)

  

A.     PENGERTIAN  PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Proses pembelajaran bukan sekedar mentransfer pengetahuan dari guru ke peserta didik, tetapi berlangsung   secara alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalaminya, lebih mementingkan strategi dari pada hasil pembelajaran, peserta didik didorong untuk mengerti apa arti belajar, apa manfaatnya belajar, dan bagaimana mencapainya. Dengan demikian mereka memposisikan diri sebagai pihak yang membutuhkan bekal hidup di masa depan.

Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti hubungan, konteks, suasana dan keadaan (konteks) (Hasibuan, 2015). Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) adalah sebuah sistem pembelajaran yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna, suatu pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari.

“Contextual teaching is teaching that enables learning in wich student aploy their academic understanding and abilities in a variety of in-and out of school context to solve simulated or real world problems, both alone and with others”, berarti pembelajaran kontekstual merupakan  pembelajaran yang memungkinkan dimana peserta didik dapat menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam banyak konteks di dalam dan di luar sekolah untuk memecahkan masalah yang bersifat simulatif maupun nyata, baik secara individu maupun bersama-sama (Hasibuan, 2015).

 Pembelajaran ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to do), peserta didik tidak sekedar pendengar pasif. Pembelajaran ini mengutamakan pada pengetahuan dan pengalaman nyata (real word learning), berfikir tingkat tinggi, berpusat pada peserta didik, peserta didik aktif, kritis, kreatif, memecahkan masalah, peserta didik belajar menyenangkan, mengasikkan, tidak membosankan (joyfull and quantum learning) dan menggunakan berbagai sumber belajar (Nurhadi dan Agus Gerrad, 2003)

Pembelajaran kontekstual menyatakan bahwa pembelajaran seharusnya bersifat kontekstual bagi guru. Selain itu pembelajaran juga harus bersifat meaningful (bermakna) dan relevant (relevan) dengan situasi dan kondisi guru. Pembelajaran kontekstual adalah suatu  pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata. Pembelajaran kontekstual bertujuan untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat ditransfer dari satu permasalahan ke permasalahan lain dan dari satu konteks ke konteks yang lain. Menurut Sears (2003) pembelajaran kontekstual adalah konsep yang membantu guru menghubungkan materi kelas dengan situasi dunia nyata. Pembelajaran kontekstual memotivasi peserta didik untuk bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri dan untuk menghubungkan pengetahuan dan penerapannya dalam berbagai situasi dalam kehidupan mereka sendiri, sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja. (Hasnawati, 2006). Sementara itu di Indonesia pembelajaran kontekstual dipahami Sebagai konsep pembelajaran yang membantu guru menghubungkan materi pembelajaran yang diajarkan dengan situasi dunia nyata bagi peserta didik, dan membantu menghubungkan pengetahuan yang dimiliki peserta didik dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Trisnawati, 2015).

 

B.    SEJARAH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Pembelajaran kontekstual pertama muncul di Amerika pada periode awal tahun 90-an. Pembelajaran kontekstual muncul sebagai respon atas desakan berbagai pihak untuk melakukan perombakan pada sistem pendidikan tradisonal Amerika (Setiyawan, 2010). Sistem pendidikan tradisional Amerika dinilai hanya menekankan pada penguasaan isi, tanpa memberikan bekal keterampilan. Peserta didik hanya sekedar menghafal pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh pengajar. Sampai kemudian penemuan ilmiah saat itu menunjukkan bahwa justru hubungan antara isi dan konteksnya itulah yang memberi makna dalam sebuah pembelajaran. Sehingga proses belajar mengajar memungkinkan peserta didik memahami arti pelajaran yang mereka pelajari. Akhirnya dengan dipelopori oleh gerakan Tech Prep pada awal tahun 90-an maka mulailah pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan dan kererampilan, mempelajari konsep-konsep abstrak dengan melakukan kegiatan praktis, dan menghubungkan tugas sekolah dengan dunia nyata. Gerakan itulah yang kemudian menjadi dasar penerapan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran.

 

B.    KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Dalam proses pembelajaran sebaiknya peserta didik tidak hanya dianggap pasif sebagai penerima informasi, akan tetapi dipandang sebagai yang memiliki potensi untuk berkembang. Oleh karena itu, diperlukan   pembelajaran yang efektif, yang lebih memberdayakan potensi peserta didik sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar peserta didik.   Pembelajaran kontekstual dianggap sebagai  yang memungkinkan peserta didik aktif berperan serta dalam proses pembelajaran.  Pembelajaran kontekstual merupakan   yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Blanchard, 2001). Oleh karena itu,  Pembelajaran kontekstual menjadi salah satu alternatif untuk dapat mendorong peserta didik aktif dalam proses pembelajaran dan belajar untuk mampu mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya dengan kehidupan sehari-hari sehingga mereka lebih siap dalam menghadapi tantangan global (Jhonson, 2000).

Beberapa item yang menjadi karakteristik pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut.

1.      Membuat komunikasi yang komunikatif (making meaningfull conection). Peserta didik memposisikan diri sebagai orang belajar aktif dalam mengembangkan minat secara individual, orang yang dapat bekerja mandiri atau kerja kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (Laerning by doing).

2.      Melakukan aktivitas-aktivitas yang signifikan (doing significant work). Peserta didik mengkait-kaitkan antara sekolah dan berbagai konteks dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.

3.      Belajar dengan pengaturan sendiri (self-regulated learning). Peserta didik melakukan kegiatan yang signifikan, ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produknya atau hasil yang sifatnya nyata.

4.      Berkerjasama (colaborating). Guru dan peserta didik berkolaborasi secara efektif dalam kelompok, guru membantu peserta didik memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomonikasi.

5.      Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Peserta didik dapat berpikir ke tingkat yang lebih tinggi, kritis dan kreatif dengan menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah,membuat keputusan dan menggunakan logika dan bukti-bukti.

6.      Mengasuh atau memelihara pribadi peserta didik (nurturing the individual). Peserta didik memelihara pribadinya dengan mengetahui,  memberi  perhatian, memberi harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri walaupun peserta didik memerlukan dukungan orang dewasa.

7.      Mencapai standar yang tinggi (reaching highsstandard). Peserta didik mengenal dan mencapai standar yang tinggi, maka guru harus mengidentifikasi tujuan dan memotivasi peserta didik untuk mencapainya. Guru menunjukan kepada peserta didik untuk mencapai (excellece).

8.      Dengan penilaian autentik (using autentic assessment). Untuk tujuan yang baik (bermakna) peserta didik mempergunakan pengetahuan akademik dalan dunia nyata. Contohnya, peserta didik dapat menggambarkan informasi akademik yang telah dipelajarinya untuk dipublikasikan dalam kehidupan nyata.

Menurut Johnson (2008) penerapan pembelajaran kontekstual dalam proses pembelajaran menekankan pada tiga hal. Pertama, pembelajaran kontekstual berfokus pada proses penemuan peserta didik terhadap topik. Proses belajar didasarkan pada proses pengalaman langsung. Proses pembelajaran dalam kerangka pembelajaran kontekstual adalah proses tidak hanya mengharapkan pelajaran dari peserta didik, tetapi menemukan dan menemukan materi pembelajaran sendiri. Kedua, pembelajaran kontekstual mendorong peserta didik untuk menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan realitas kehidupan nyata. Dengan kata lain, peserta didik harus mampu memahami hubungan antara pengalaman belajar mereka di sekolah dan kehidupan sehari-hari mereka. Ketiga, pembelajaran kontekstual mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

 pembelajaran kontekstual mengharapkan peserta didik tidak hanya mampu memahami materi pelajaran, tetapi memperbarui dan mengkontekstualisasikan topik untuk kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, apa yang dipelajari di kelas melalui pembelajaran kontekstual tidak dimaksudkan untuk dihafal, melainkan untuk dipahami, dipraktikkan, dan dibiasakan.

C.     KOMPONEN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching Larning/ CTL) yaitu pembelajaran yang membantu guru dalam mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dengan kehidupan mereka sehari-hari. Nurhadi (2003) menyatakan bahwa ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Ketujuh komponen tersebut adalah (1) konstruktivisme (constructivisme); (2) bertanya (questioning); (3) pean (ing); (4) menemukan (inquiri); (5 masyarakat belajar (learning community); (6) refleksi (reflection); dan (7) penilaian sebenarnya (authentic assessment). Komponen-komponen tersebut dianggap dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah sehingga hasil belajarnya pun meningkat.

 

 

1.   Konstruktivisme (Constructivisme)

Konstruktivisme merupakan landasan filosofis (berpikir) pembelajaran kontekstual. Konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan dan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Kegiatan belajar dikemas menjadi proses mengonstruksi pengetahuan sehingga belajar dimulai dari apa yang diketahui peserta didik. Diharapkan peserta didik mampu menemukan ide dan pengetahuan, baik konsep maupun prinsip baru, menerapkan ide-ide, kemudian peserta didik mencari strategi belajar yang efektif agar mencapai kompetensi dan puas atas penemuannya (Mulyasa, 2009).

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar akan tetapi dikonstruksi dari dalam diri seseorang (Sanjaya, 2006). Muslich (2009) mengemukakan konstruktivisme adalah proses pembelajaran yang menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna.

Konstruktivisme yaitu mengembangkan pikiran peserta didik untuk belajar lebih baik dengan cara bekerja sendiri, mengkonstruksi sendiri, pengetahuan dan ketrampilan barunya. Hal ini adalah landasan berpikir pembelajaran kontekstual. Pengetahuan riil baginya adalah suatu yang dibangun atau ditemukan oleh peserta didik sendiri. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang harus diingat peserta didik, tetapi peserta didik harus merekonstruksi pengetahuan itu kemudian mengartikan melalui pengalaman nyata.

2.   Bertanya (Questioning)

Pengetahuan yang dimiliki seseorang bermula dari “bertanya”. bertanya (Questioning) merupakan strategi utama pembelajaran kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir peserta didik (Muslich, 2011). Dalam pembelajaran kontekstual guru tidak menyampaikan informasi begitu saja tetapi memancing peserta didik untuk dapat menemukannya sendiri. Oleh karena itu, peran bertanya sangat penting sebagai cara guru untuk membimbing dan mengarahkan peserta didik menemukan setiap materi yang dipelajarinya (Trianto, 2007).

Bertanya adalah mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan dialog interaktif oleh keseluruhan unsur yang terlibat dalam komonitas belajar. Dengan demikian pembelajaran lebih hidup, mendorong proses dan hasil pembelajaran lebih luas dan mendalam. Dengan question mendorong peserta didik selalu bersikap menolak suatu pendapat, ide atau teori secara mentah. Hal ini mendorong sikap selalu ingin mengetahui dan mendalami (coriosity) berbagai teori dan dapat mendorong untuk belajar lebih jauh.

Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir (Sanjaya, 2006). Menurut Mulyasa (2009) menyebutkan ada 6 keterampilan bertanya dalam kegiatan pembelajaran, yakni pertanyaan yang jelas dan singkat, memberi acuan, memusatkan perhatian, memberi giliran dan menyebarkan pertanyaan, pemberian kesempatan berpikir, dan pemberian tuntunan. Dalam pembelajaran melalui pembelajaran kontekstual guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar peserta didik dapat menemukan sendiri.

3.     Pemodelan (Modeling)

Pemodelan maksudnya ada yang bisa ditiru dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu.  itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya.  dapat dirancang dengan melibatkan peserta didik (Trianto, 2007).

Dalam pembelajaran perlu ada yang dapat dicontoh oleh peserta didik. Terkait hal ini  bisa berupa cara mengoperasikan, cara melempar atau menendang bola dalam olah raga, cara melafalkan dalam bahasa asing, atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Ketika guru sanggup melakukan sesuatu maka peserta didik akan berfikir sama bahwa dia juga bisa melakukannya.

Pean adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap modeling merupakan azas yang cukup penting dalam pembelajaran pembelajaran kontekstual, sebab melalui ing peserta didik dapat terhindar dari pembelajaran yang teoritis (abstrak) yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme (Sanjaya, 2006). Konsep pemodelan (modeling), dalam pembelajaran kontekstual menyarankan bahwa pembelajaran ketrampilan dan pengetahuan tertentu diikuti dengan  yang bisa ditiru peserta didik. Cara pembelajaran seperti ini, akan lebih cepat dipahami peserta didik dari pada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada peserta didik tanpa ditunjukan  atau contohnya (Muslich, 2009).

4.   Menemukan (Inquiry)

Menemukan (Inquiry) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran kontekstual. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh peserta didik. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Langkah-langkah kegiatan inquiry yaitu merumuskan masalah, mengamati atau melakukan observasi, menganalisis dan menyajikan hasil, dan mengomunikasikan hasilnya pada pihak lain (Trianto, 2007).

Inquiry merupakan proses pembelajaran yang berdasarkan pada proses pencarian penemuan melalui proses berfikir secara sistimatis, proses pemindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, peserta didik belajar dengan ketrampilan berfikir kritis. Dalam hal ini guru harus merencpeserta didikan situasi kondusif supaya peserta didik belajar dengan prosedur mengenali masalah, menjawab pertanyaan, menggunakan prosedur penelitian (investigasi), menyiapkan kerangka berfikir, hipotesis dan penjelasan yang relevan dengan pengalaman pada dunia nyata.

Inquiry artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencairan dan penemuan melalui proses berpikir secara Secara umum proses Inquiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: merumuskan masalah, mengajukan hipotesa, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan membuat kesimpulan (Sanjaya, 2006:265). Pendapat lain menyatakan inquiry merupakan proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh peserta didik. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh peserta didik tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, akan tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya Muslich (2009:45).

5.   Masyarakat Belajar (Learning Community)

Masyarakat belajar merupakan sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar. Konsep masyarakat belajar (learning community) menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Konsep belajar dalam kelompok seperti ini memungkinkan peserta didik untuk dapat bertukar pengalaman dan berbagi ide antara yang satu dengan yang lain. Hasil belajar diperoleh dari “sharing” antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu dengan yang belum tahu (Trianto, 2007).

Masyarakat belajar adalah pembelajaran yang didapat dari berkolaborasi dengan orang lain. Dalan pembelajaran ini selalu dilakspeserta didikan dalamkelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Peserta didik yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah tahu memberu tahu yang belum tahu dan seterusnya. Dalam prakteknya terbentuklah kepompok-kelompok kecil, kelompok besar, mendatangkan ahli ke kelas,bekolaborasi dengan kelas paralel, bekerja kelompok dengan kakak kelas dan bekolaborasi dengan masyarakat.

Didasarkan pada pendapat Vygotsky, bahwa pengetahuan dan pemahaman peserta didik banyak dibentuk oleh komunikasi dengan orang lain. Permasalahan tidak mungkin dipecahkan sendirian, tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Konsep masyarakat belajar dalam pembelajaran kontekstual hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain, teman, antar kelompok, sumber lain dan bukan hanya guru (Sanjaya, 2006). Muslich (2009) mengemukakan konsep masyarakat belajar dalam pembelajaran kontekstual menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang.

6.   Refleksi (Reflection)

Refleksi merupakan proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengurutkan kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilalui. Dalam pembelajaran kontekstual, guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk merenung atau mengingat kembali apa yang telah disampaikannya setiap berakhir proses pembelajaran (Trianto, 2007).

Refleksi merupakan suatu Upaya untuk melihat, mengorganisir, menganalisis, mengklarifikasi dan mengevaluasi hal-hal yang telah dipelajari. Untuk merealisasikan, di kelas dirancang pada stiap akhir pelajaran, guru menyisahkan waktu untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik melakukan refleksi dengan cara : pernyataan langsung dari peserta didik tentang apa apa yang diperoleh setelah melakukan pembelajaran, catatan atau jurnal di buku peserta didik, kesan dan saran peserta didik tentang pembelajaran hari itu, diskusi dan  ragam hasil karya.

Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Dalam proses pembelajaran dengan pembelajaran kontekstual, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk merenung atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya (Sanjaya, 2006).

7.   Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assesment)

Assesment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik. Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian bukanlah untuk mencari informasi tentang perolehan belajar peserta didik. Pembelajaran yang benar sudah seharusnya ditekankan pada upaya membantu peserta didik agar mampu mempelajari, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir pembelajaran (Trianto, 2007).

Untuk mengukur hasil pembelajaran selain dengan tes harus diukur juga dengan assessment authentic yang dapat memberikan informasi yang benar dan akurat tentang apa yang benar-benar diketahui dan bisa dilakukan peserta didik atau tentang kualitas program pendidikan. Penilaian otentik adalah proses pengumpulan data beragam data untuk melukiskan perkembangan belajar peserta didik. Data tersebut berupa hasil tes tertulis, proyek (laporan kegiatan), karya peserta didik, performance (penampilan presentasi) yang dirangkum dalam foto folio peserta didik.

Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah peserta didik benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar peserta didik memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual ataupun mental peserta didik. pembelajaran pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada proses belajar bukan sekedar pada hasil belajar (Sanjaya, 2006). Muslich (2009) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar peserta didik.

 

D.     KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Setiap hal pasti tidak terlepas dari kepemilikan atas kelebihan dan kekurangan. Hal tersebut tentu juga berlaku pada pembelajaran kontekstual. terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh pembelajaran kontekstual. menurut Suyadi (2015), kelebihan dan kekurangan pembelajaran kontekstual antara lain adalah sebagai berikut.

 

 

1.     Kelebihan Pembelajaran Kontekstual

a.     Pembelajaran kontekstual dapat mendorong peserta didik menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata,  peserta didik secara tidak langsung diminta untuk memahami hubungan antara pengalaman belajarnya di sekolah dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dapat bereksplorasi, berdiskusi dan mampu berpikir kritis serta memecahkan masalah.

b.     Pembelajaran kontekstual mampu mendorong peserta didik untuk menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan nyata, peserta didik tidak hanya diharapkan dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagimana materi itu dapat mewarnai perilaku/tingkahlaku (karakter/akhlak) dalam kehiduoan sehari-hari.

c.     Pembelajaran kontekstual menekankan pada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi. Maksudnya, proses belajar didasarkan pada proses pengalaman langsung. Proses pembelajaran dalam kerangka pembelajaran kontekstual adalah melalui proses menemukan dan menemukan materi pelajaran itu sendiri, bukan hanya mengharapkan peserta didik untuk menerima materi pelajaran.

2.     Kekurangan Pembelajaran Kontekstual

a.     Pembelajaran kontekstual membutuhkan waktu yang lama bagi peserta didik untuk bisa memahami semua materi.

b.     Guru harus bekerja ekstra untuk lebih intensif dalam membimbing, karena dalam pembelajaran kontekstual guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi.

c.     Peserta didik sering melakukan kesalahan ketika mencoba menghubungkan mata pelajaran dengan realitas kehidupan sehari-hari. Berdasarkan ini, peserta didik harus gagal berulang kali untuk menemukan hubungan yang tepat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Blanchard, A. (2001). Contextual Teaching And Learning. Jakarta: B.E.S.T.

Hasibuan, M. Idrus (2015), ‘Model Pembelajaran Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)’, Logaritma: Jurnal Ilmu-Ilmu Pendidikan Dan Sains, 2.01

Jhonson, (2000). Contextual Teaching And Learning : What It Is And Why It’s Here To Stay. Terjemahan Ibnu Setiawan. Bandung: Mlc.

Johnson, E. B. (2008). Contextual Teaching Learning : Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna (I. Setiawan, Ed.). Bandung: Mizan.

Kadir, A. (2013). Konsep Pembelajaran Kontekstual di Sekolah. Dinamika Ilmu, 13(1).’, Dinamika Ilmu, 13.1

Malika, D. L., Endjid, P., & Magdalena, I. (2023). Perbedaan  Model Metode Strategi   Teknik dan Taktik Dalam Pembelajaran  peserta didik Kelas 4 SDN Poris Pelawad 5 Kota Tangerang. Educatioanl Journal: General and Specific Research, 3(Februari).

Mulyasa, Enco. (2009). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muslich, Mansur. 2009. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.

Nurhadi B. Y., dan Agus Gerrad, S. (2003). Pembelajaran Konstektual (Contextual Teaching and Learning/Pembelajaran kontekstual) dan Penerapannya dalam KBK. Universitas Negeri Malang (Umpress): IKIP Malang.

Rosyidi, A. M. (2017).  Model dan Strategi Pembelajaran Diklat. Andragogi : Jurnal Diklat Teknis Pendidikan dan Keagamaan, 5(1), 100-111.

Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Sears, S. (2003). Introduction to Contextual Teaching and Learning. Bloomington Indiana: The Phi Delta Kappa Educational Foundation.

Setiyawan, E. (2010). Pembelajaran Kitab Kuning dengan Contextual Teaching and Learning di MTs Manahijul Huda Ngagel-Dukuhseti-Pati (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo). Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo. Retrieved from http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/95/1/Eko_Tesis_Sinopsis.pdf

Suyadi. (2015). Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter (3rd ed.). Remaja Rosdakarya.

Trianto. (2007). Inovasi Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar